Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IBADAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Cerita Ayah: tentang Imam Masjid

Biasanya Ayah rajin sekali shalat ke masjd. Setidaknya setiap Maghrib dan Isya setelah Ayah pulang kantor. Kebiasaan ini juga diikuti oleh anak-anak Emak yang semuanya laki-laki. Mereka selalu Emak ingatkan bahwa keutamaan laki-laki adalah shalat berjamaah di masjid. Memakmurkan masjid adalah kewajiban para laki-laki.

Tapi beberapa waktu berlalu, Emak lihat intensitas Ayah semakin berkurang. Sekalipun pergi ke masjid, pulang-pulang bawa wajah yang masam.  Emak penasaran, lalu bertanya alasannya.

“Semakin hari semakin parah”, jawab Ayah pendek.

“Parah apanya?”.

“Mmmmm..” Ayah menggumam ragu. “Bacaan shalat imamnya sering salah, makhraj-nya ngaco. Awalnya Ayah coba untuk memaklumi, mungkin karena sudah tua dan lidahnya orang Sundanya susah dirubah. Tapi lama-lama Ayah malah sering ngedumel dalam hati pas shalat. Kayaknya shalat di masjid malah bikin tambah banyak dosa.”

“Kenapa gak Ayah saja yang jadi imam kalau begitu?”.  Ayah memang bukan lulusan pesantren tapi Ayah dibesarkan dalam keluarga yang kental ajaran agamnya.  Ayahpun (pernah) hapal beberapa juz dalam Al Qur’an.

“Ya, ga bisa begitu. Ada adab dan aturan bagi seseorang untuk menjadi imam. Kalau Ayah maksa jadi imam gitu, Ayah akan jadi imam yang dibenci oleh jamaahnya.” Padahal itu salah satu yang dilarang bagi imam dalam memimpin shalat berjamaah”.

“Lah, kalau Ayah bisa tapi Ayah diam saja, Ayah ikut menanggung dosanya juga dong.”

“Iya sih, habis gimana mereka sudah sepuh semuanya…”, ujar Ayah sambil ngeloyor pergi.



Suatu hari sepulang dari masjid, Ayah cerita dengan berapi-api. Katanya di papan pengumuman ada surat yang 'ngeritik' DKM. Seharusnya DKM serius dalam memilih imam shalat. Imam shalat sebaiknya yang bacaan suratnya fasih.  Bahkan secara jelas, surat itu menyebutkan beberapa lafadz yang sering salah dibacakan oleh salah seorang imam.

Ayah nampak lega sekali, semua yang ada dalam benaknya tidak perlu keluar dari mulutnya. Ternyata bukan Ayah saja yang ‘menderita’ selama ini.  Tapi dengan adanya surat kaleng di papan pengumuman itu, Ayah jadi sadar kalau kebenaran memang perlu disuarakan. 

Mungkin kita memang tidak pernah sendirian.

Entahlah Emak ga bisa menentukan itu cara yang tepat atau tidak, cara yang baik atau tidak, yang yang efektif atau tidak. Tapi, kalau semua orang seperti Ayah, menahan diri untuk menyatakan kebenaran dan mengorbankan pahala ibadah atas nama sopan-santun, maka ini jalan yang harus diambil. 

Kita harus bersikap!

Truth Hurts but Doesn’t Kill,

Lies May Please But Doesn’t Heal

 The Truth May Hurt for a Little While

But a Lie Hurts Forever

*******



Dasar ILMU-nya...


"Syarat-syarat Imam Shalat"


Shalat secara berjamaah lebih disukai Allah azza wa jalla. Bahkah Allah menggandakan pahala shalat berjamaah hingga 27 derajat, agar manusia suka melakukannya.

Dalam shalat berjamaah ada dua komponen utama: imam dan makmum. Imam bertugas memimpin shalat dan makmum mengikutinya. Sebagai seorang penentu shalat para makmumnya maka selayaknya imam dipilih dari kalangan terbaik dan manusia paling utama diantara jamaah.

Banyak sekali keutamaan menjadi seorang imam. Ada hadits yang menyebutkan, bahwa imam memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang shalat di belakangnya [1]. Namun keutamaan ini tidak menjadikan setiap orang berhak menjadi imam, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

Secara internal pada dirinya seorang  yang akan menjadi  imam perlu berintrospeksi, menimbang diri, apakah layak untuk menjadi imam.  Secara syariat, penentuan imam bisa didasarkan pada empat (4) hal ini:

1. Tuan rumah;
2. Penguasa, atau imam yang ditunjuk oleh penguasa (imam rawatib);
3. Orang yang paling fasih dan dalim dalam membaca Al Qur'an maupun ilmu agama        diantara para jamah;

HR  Abi Mas`ud Al Badri Radhiyallahu ‘anhu , dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


يَؤُمُّ اْلقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ ، فَإِنْ كَانُوْا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءٌ فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ ، فَإِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءٌ فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَإِنْ كَانُوْا فِى اْلهِجْرَةِ سَوِاءٌ فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا (وَفِى رِوَايَةٍ : سِنًّا)، وَ لاََ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِه (وفى رواية : فِي بَيْتِهِ) وَ لاَ يَقْعُدْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya” [2]


4. Bukan orang yang dibenci oleh makmumnya. 
Tentunya kebencian disini bukanlah kebencian yang didasarkan pada urusan duniawi. Menurut Ahmad dan Ishaq dalam Dha'if Sunan Tirmizi, jika yang membencinya satu, dua atau tiga maka tidak mengapa ia shalat bersama mereka[3]. Namun Shiddiq Hasan Khan rahimullah mengatakan jika disadari ada unsur kebencian diantara jamaahnya maka sebaiknya ia tidak menjadi imam.



     Footnote:
[1]. Kitab Mulakhkhsul Fiqhi, Syaikh Shalih bin Fauzan, halaman 1/149.

[2]. HR Muslim 2/133. Lihat Irwa` Ghalil 2/256-257.

[3]. Lihat Dha`if Sunan Tirmizi, halaman 39.







 I     Ilmu disarikan dari :"Adab-adab Imam dalam Shalat Berjamah"






#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita

#HariKe-5

Rabu, 07 Februari 2018

Rumahku Bukan Rumah Laba-Laba

Allah menyebutkan banyak nama binatang dalam firman-Nya, salah satunya adalah laba-laba.
Kata bu ustadzah, penyebutkan laba-laba dalam Al-Qur'an yang dinyatakan sebagai Al-Ankabuut  adalah celaan. Bukan celaan terhadap binatang lebahnya, tapi celaan pada yang dibangunnya: rumah yang rapuh. Dalam QS. Al- Ankabuut:41 disebutkan kata 'rapuh' dalam bahasa 'ismu tafdhil, 'auhana' yang berasal dari kata 'wahana' yang berarti lemah.

Firman Allah dalam ayat ini tentu saja tidak membahas tentang betapa rapuh dan lemahnya rumah laba-laba. Allah memberikan perumpaan saja, agar hanya menjadikan Allah sebagai tempat berlindung dan tempat bergantung. Menjadikan selain Allah sebagai tempat memuja, bagaikan membangun rumah yang rapuh seperti rumah laba-laba.

"Perumpaan orang-orang yang mengambil penolong-penolong selain Allah, adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahuinya." (QS Al-Ankabuut:41)

Sering menghadiri majelis ilmu tidak disangkal lagi akan menambah keimanan Emak. Ayat ini bukan baru sekali Emak dengar, bukan sekali Emak simak. Tapi manusia harus terus diingatkan, harus terus disentuh hatinya.

Semoga, rumah keluarga Wajdi tidak seperti rumah laba-laba. Semoga, keluarga pak Wajdi selalu dalam lindungan Allah, dijauhkan dari godaan syetan yang terkutuk dan tidak pernah menjadikan selain Allah sebagai sesembahan.

Aamiin..
Semoga kita semua begitu juga yaaa..


Salam Emak!

Jumat, 15 Maret 2013

Pencerahan 1


Kalau boleh cerita tentang ‘pencerahan’, ada 1 cerita yangsampai sekarang masih teringat dari komik Manajemen Qalbu-nya Aa Gym. Padahal itu sekitar 10 tahun yang lalu, saat aku masih menjadi putih abu-abuer, saat aku masih sangat imut dan lugu...(wewlh wewlwh bagian ini kayaknya ga penting banged yak?..hehehe. Soalnya sekarang udah ga imut dan ga lugu lagi, tapi udah jadi amit-amit dan belagu...ihhh lebih ga penting lagi. Yukk ah lanjutttt...)

Ceritanya tentang seorang ibu berdandan ‘ala penggede, yang menawar mangga pada pedagang keliling. Karena harga gak pas akhirnya si ibu dengan perhiasan banyak itu melenggang pergi. “Ih, ditawar aja ga mau. Kalo mahal gitu mah lebih baik beli di supermarket aja. Mutu lebih terjamin,” ujarnya, sambil menaikkan kaki keatas mobilnya.

Nah, lalu apa yang aneh dengan penggalan cerita diatas. (Kayak ulangan bahasa Indonesia ya pertanyaannya? Wkwkwk..) Justru ga ada yang aneh. Itulah yang jadi permasalahannya. Kok Bisa?

Sadar ga kalau kita cenderung bersikap seperti si ibu penggede itu. Kita terkadang lebih memilih untuk berbelanja di supermarket, daripada harus nawar-nawar ama penjual keliling. Kenapa? Alasannya sangat rasional. Di supermarket kualitas relatif terjaga, karena barang-barang yang masuk supermarket biasanya sudah melalui kontrol kualitas. Bayar sedikit mahal, ga masalah.

Cuma pernahkah terpikir kalau keuntungan dari supermarket itu akan lari ke tangan para bos yang memang sudah berkantung tebal. Sedangkan kalau beli ke tukang dagang keliling, keuntungannya akan lari ke keluarganya. Para penjual-penjual itu berjihad mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Apa salahnya kita untuk tidak menawar mati-matian, anggap saja membantu meringankan bebannya. Bagi kita mungkin seribu-dua ribu tidak ada artinya, namun bagi mereka akan sangat bermanfaat..

Sama halnya seperti model ayam-telur , siapa yang duluan. Begitu pula fenomena diatas. Kadang kita juga harus rasional, ada hukum ekonomi yang menyatakan bahwa manusia cenderung berusaha mendapatkan sesuatu semaksimal mungkin dengan pengorbanan seminimal mungkin. Kalau ada yang lebih murah ngapain yang lebih mahal? Kalau ada yang lebih baik, kenapa takut bayar lebih mahal. Tul gak?

Ok, kalau tujuannya membantu pedagang kecil kita akan mendahulukan belanja di pasar atau di pedagang keliling. Tapi kadang, dalam rangka mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya mereka juga melakukan kecurangan. Misalnya dengan menyembunyikan barang cacat dan menjualnya tanpa peringatan. Hal yang sangat kecil kemungkinannya terjadi di supermarket. Kalaupun terjadi kita bisa komplen sama manajernya.
Ya, kalau udah jadi tradisi yang mendarah daging gini mah susah ya...Siapa yang salah pembeli atau penjual nih? Ah, ternyata menjadi konsumen juga harus cerdas ya..

Contoh soal dalam kehidupan:

Dulu sebelum dapat ‘pencerahan’, saya juga ga mau beli ama pedagang kaki lima. Bukannya sombong atawa belagu alias gengsi, tapi kadang-kdang mereka suka ngasih harga yang ga kira-kira. Emang kita bisa dibodoin apa? Ada harga diri bermain disini.( cieeee...). Padahal sebagai manusia yang berprikemanusiaan dan berprikeadilan, suka ga tega kalo nawar ampe seperempatnya..(busyet dah!). Karena ga tega itu, kalo nawar palingan ngurangi serebu-dua rebu. Makin kesini makin tahu, ternyata trik para pedagang untuk menghadapi ibu-ibu yang dahsyat nawarnya, mereka pasang harga ga kira-kira. Pantesan tiap aku yang nawar, pedagang ga pake banyak cingcong lagi, langsung bungkussss!!Tapi setelah tahu bahwa kenyataan yang terjadi memang begitu, sekarang saya lebih arif dalam menyikapinya (cieee...).

Ada nih cerita, beberapa hari yang lalu beli mangga di kios pinggir jalan. 
“Berapa Bu Sekilo?” tanyaku sambil milih-milih.

“8 rebu,” jawabnya acuh tak acuh.

Setelah puas milih aku sodorkan 4 buah mangga kepadanya untuk ditimbang. Dalam hati perasaan kemaren di kantor ada yang jual 5 rebu deh. Kok disini bisa mahal banget ya? Ah, udahlah kan uang lebihnya juga ga kemana-mana,itung-itung sodakoh deh, hibur malaikat dalam hatiku. Karena tengsin nanya berapa beratnya tuh mangga, aku langsung ngasih uang 50 rebu dan dikembaliin 35 rebu. Aku nanya, emang segitu 2 kg bu?"

“Iya”, jawabnya pendek. Ya ilah si ibu irit banget ngomongnya, emangnya pake bensin apa?

Akhirnya aku pulang kerumah sambil membayangkan anak-anakku yang berlarian menyambut mangga ditanganku.

“Assalamu’alaikum”. Kok sepi, kemana anak-anak, tanyaku dalam hati. Rupanya mereka lagi ngumpul di dapur .

“Eeh Bunda udah pulang..” sambut anakku, dia menyodorkan tangannya yang lengket untuk salim. Mulut mereka berlepotan cairan berwarna oranye. “ Tadi niang beliin kita mangga enak deh Bun, mau?”, kata Jaka sambil mengasongkan potongan mangga mulutku.

Hehe aku Cuma mingkem masem. “emang niang beli dimana mangganya?”

“Beli ama yang lewat. Murah Cuma 10 rebu, dapet 3 kg...” jawab ibuku santai.

Gubrakkkk , berarti 1 kilonya Cuma 3,33 rebu rupiah dong. Sedangkan aku beli 1 kilonya 8 rebu. Aduh mak...kalo gini siapa yang bloon??????

Tujuh belas tahun keatas..."ITIKAFnya SEORANG WANITA"


Malam ke-23 ramadhan. Semua orang bersiap menyambut Lailatul Qadar, tak terkecuali suamiku. Dia masih di Depok karena sampai hari Selasa, 15 September 2009, beliau masih ada jadwal perkuliahan.

Lewat SMS beliau mengingatkanku agar beritikaf, memohon anugrah Allah atas malam yang penuh keberkahan itu. Tanpa bermaksud menafikan 'perintah' tersebut, aku hanya mengangguk setengah hati. Bagaimana mungkin, disaat anakku yang terkecil masih belum tidur aku bisa itikaf. Masalahnya Imbo, anakku itu biasanya tidak akan tidur bila bundanya juga tidak tidur. Berlama-lama diatas sajadah pun, merupakan tantangan yang berat, apalagi beritikaf. Inna amalu binniyah...Segala sesuatu itu tergantung niatnya, maka dengan penuh pengharapan kumohon kepada Allah agar aku bisa berdoa panjang malam ini.

Malam ke-28 ramadhan. Suamiku sudah datang, dan bisa menemani anak-anakku tarawih di masjid. Kali ini Dika tidak ikut, sepanjang siang dia main PS sampai lupa tidur siang. Jadi ketika datang waktu maghrib dia jatuh tertidur.

Pulang dari masjid, suamiku menceritakan betapa sabarnya Jaka. Karena juga tidak tidur siang, rupanya Jaka ngantuk, sampai-sampai ketiduran ketika acara ceramah. Saat shalat tarawih akan dimulai. Ayahnya bermaksud memindahkan jaka ke pojok masjid. Tanpa dinyana ternyata jaka langsung tersadar dan pulih kesegarannya. Setelah mengambil wudhu, Jaka akhirnya ikut melanjutkan ibadahnya malam itu. Subhannallah..Robbi habli minashsholihin...

"Hanya satu hal yang disayangkan.." ujar suamiku.

"Kenapa?" tanyaku penasaran

"Jaka tidak mendengar ceramah tadi."

Aku cuma mengangkat kedua alisku, penuh tanda tanya.

"Pak ustadz tadi menerangkan bahwa ternyata bentuk itikaf itu bisa dalam berbagai bentuk. Untuk para istri terutama, itikaf tidak hanya berdiam diri di masjid, atau berlama-lama di atas sajadah. Kalau memang hanya itu bentuk ibadah, betapa kasihannya para istri yanng tidak mungkin pergi ke masjid karena terlalu banyak urusan di rumah. Betapa mudharatnya bila para istri memaksakan diri pergi ke masjid, padahal urusan-urusan rumah tangganya terbengkalai...."

"So..?"

" Ternyata mengurus keluarga, melayani suami di dapur, di sumur merupakan bentuk itikaf bagi para istri sholehah."

"Hanya di dapur dan di sumur?" tanyaku lagi.

"Hahahaha, aku sengaja gak nyebutin yang terakhir, buat mancing Bunda biar nanya..."
Aku cubit tangannya karena genitnya mulai kumat.

"Untuk melengkapinya di kasur juga Bun...hahhaha"

Aku cuma bisa manyun.

"Makanya sayang Jaka gak dengerin ceramah tadi. Kalo denger pasti dia nasehatin Bunda, seperti dia nasehatin Niang...hahhaha"

17-10-2009

Hikmah Ramadhan Tahun Ini...


Alhamdulillah, tahun ini Jaka, anak pertamaku berhasil membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa ternyata dia mampu untuk berpuasa satu hari penuh. Kesabarannya benar-benar terbukti, dia tidak pernah mengeluh lapar atau haus, dia juga tidak pernah bertanya berulang kali kapan waktunya maghrib. (beda banget dengan adiknya yang sudah nanya waktu maghrib sejak adzan ashar..).

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jaka juga tidak pernah absen tarawihan di masjid, walaupun tidak ada satu orangpun yang bisa menemaninya pergi ke masjid. Kecuali beberapa hari ketika dia jatuh sakit. Setiap dibangunkan sahur dia langsung bangun, tanpa mengeluh malah dengan penuh sukacita. (Perasaan lebih susah bangunin pembantu bangun sahur, daripada bangunin Jaka. Pembantu yang beruntung...hehheh)

Suatu sore diminggu terakhir ramadhan, Ibundaku mengeluh karena kehilangan selera makan. Sambil duduk di kursi kesayangannya beliau hanya memandangi nasi dan lauk yang sudah berada di tangannya.
Jaka mendatangi neneknya dan duduk disamping beliau.

"Niang...Niang tidak boleh mengeluh. Rasulullah saja tidak pernah menolak masakan yang disuguhkan istrinya."

Kontan ibuku yang sedang bete itu tergelak. beliau membelai lembut rambut Jaka.

"Tapi Niang kan bukan Rasul." Elak Ibuku.

"Iya, tapi Niang kan guru agama...harus jadi contoh dong!"

"Hahahah, tahu darimana Kak? Ya deh Niang makan apapun yang dibuat Bundamu..." Masih dengan menahan gelinya, Ibuku mulai menyuapkan nasinya sesendok demi sesendok.

Thanks Jaka, sekarang setiap kali Ibuku kehilangan selera, aku pakai jurus itu agar beliau kembali bersemangat...

What an incredible Ramadhan...
 27-10-2009

HUKUM QURBAN menurut MAZHAB Hanafi dan Syafi’i


HUKUM QURBAN menurut MAZHAB Hanafi dan Syafi’i

"Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan menyembelihlah".
(Al Kautsar:2)

Secara harfiah Qurban dalam bahasa Arab artinya dekat. Qurban bisa diartikan sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah qurban disebut juga "udzhiyah" artinya hewan yang disembelih sebagai qurban.
Keutamaan qurban dijelaskan oleh sebuah hadist A'isyah, Rasulullah s.a.w. bersabda "Sebaik-baik amal Bani Adam bagi Allah di hari Iedul Adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai Bani Adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya" (H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).

Hukum ibadah qurban:

• Mazhab Hanafi
WAJIB dengan dalil hadist Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda "Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka janganlah ia mendekati masjidku" (H.R. Ahmad, Ibnu Majah).

• Mazhab Syafi'i
SUNNAH ‘AIN (menjadi tanggungan individu) bagi setiap individu sekali dalam seumur hidup dan SUNNAH KIFAYAH bagi sebuah keluarga besar. Namun kesunnahan tersebut terpenuhi bila salah satu anggota keluarga telah melaksanakannya. Dalam riwayat Ibnu Abbas Rasulullah s.a.w. mengatakan "Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha" (H.R. Ahmad dan Hakim).

Secara garis besar, kesimpulannya Qurban disunnahkan kepada yang mampu. Permasalahannya muncul karena dalam menentukan mampu atau tidaknya seseorang itu ukurannya sangat relatif individualistik. Sangat berbeda dengan zakat yang sudah ditentukan secara syariat nisabnya. Salah satu cara pengukurannya adalah dengan terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, dan mampu menyisihkan pendapatan berqurban tanpa menimbulkan hal yang mudharat pada diri kita atau orang lain.
Wallahualam Bishawab..

AYO BERQURBAN!


SELASA, 27 OKTOBER 2009

AYO BERQURBAN!

Berawal dari perbincangan ringan saat menemani ibunda bersantap pagi.

“Kak, gak kerasa ya bentar lagi idul adha..”

“Eh iya ya, sekarang para calon jemaah haji sudah mulai berangkat!” Aku jadi teringat nasi kotak yang dibagikan kemarin siang, sebagai syukuran keberangkatan temanku ke tanah suci.

“Kira-kira siapa saja yang akan berqurban tahun ini?” tanya Mama, mengacuhkan pertanyaanku tadi.

Upss. Bagiannya yang itu, malah ga terlintas di benakku. Aku ingat ini musim haji, aku ingat berati akan ada lebaran haji, aku ingat biasanya dapat bagian daging qurban dari masjid, yang ga aku ingat bahwa sebenarnya ‘kami’ pun harus berqurban juga.

Aku pandangi wajah ibundaku yang mulai dimakan waktu, diwarnai asam garam kehidupan dan dinaungi kebijaksanaan. Berusaha membentang kenyataan hidupku saat ini yang jauuuuhhh dari kata ‘lebih’. Berusaha meyakinkannya dengan tatapan mata tanpa kata-kata.

“Ingat tahun lalu kalian juga absen qurban...Padahal dua tahun yang lalu kalian sampai berqurban sapi, apa ga jomplang tuh!”

“Ma, tapi kan..gaji kami pas-pasan, tahun ini kebetulan seret Ma...”

“Iya tinggal niatnya aja, nanti kekurangannya Mama bantu.”

Beuuu..yang gini nih, yang gini bikin kita mati kutu. Disatu sisi kita seneng karena dibantuin, di sisi yang lain, aku malu. Sebagai anak harusnya aku meringankan beban ortu bukannya malah nambahin.

“Sebenernya bukan ga ada-ga ada banget sih Ma. Cuman kalo mikir bahwa banyak keperluan yang lain sih..rasanya sayang. Toh, berqurban bukan wajib kan Ma?”

“Ingat kisah dibelakang Idul Adha. Suatu hari yang dijadikan Allah sebagai peringatan kepada seluruh manusia, ketika Allah menghendaki manusia untuk mengorbankan apa yang sebenarnya hanyalah titipan Allah, maka hendaklah merasa ringan. Sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Adil dan Maha Pengasih. Kita Cuma diminta berqurban hewan ternak 1 ekor tiap tahun, bukannya diminta menyembelih anak seperti Nabi Ibrahim as!” Mulailah darah daiah ibundaku menggelora.

“Iya Ma, InsyaAllah aku usahakan menyisihkan sedikit-sedikit, mudah-mudahan terkumpul..” Hiks, sungguh mimpi di siang bolong. Secara, di kantor peluang untuk mendapatkan uang sangat tipis, kalo ga boleh dibilang ga ada. Sedangkan dalam dua minggu ini uang itu mau- ga mau harus tersedia. Duhh....

Eitss, ingat rejeki itu bukan dari kantor, bukan dari bos, bukan dari suami, bukan dari ortu, bukan dari temen...tapi dari Allah. Kalau Allah menghendaki, kun fa yakun...seperti kisah dua tahun lalu dimana ada seseorang yang menggenapi kami untuk membeli seekor sapi.

Yukk, yakin bahwa Allah akan mencukupi kita, dan InsyaAllah ada rejeki untuk berqurban di tahun ini...aminnnnnnnnn

Indahnya Bersedekah

Mudah-mudahan ini tidak dikategorikan ‘pamer’ ya. Tapi memang niatnya bukan buat pamer atau apalah. Lebih kepada keinginan untuk menyimpan peristiwa yang begitu menyentuh hati saya, yang ingin terus saya ingat. Apalagi kalau berhasil menyentuh hati anda juga, Alhamdulillah...

Sejak Senin, 23 Oktober hingga 25 Oktober 2009, suami saya menghadapi UTS semester genap. Dia akan berjuang demi masa depan kami sekeluarga. Karena itu saya merasa berkewajiban untuk mendukungnya dia. Dan yang bisa saya lakukan adalah mendoakannya. Sehingga, akhirnya saya bertirakat untuk menjalankan puasa selama dia ujian, Senin-Rabu. Selama itu pula saya rajin membaca kitab suci dan melakukan shalat dhuha serta shalat tahajud. Berdoa semoga Allah memudahkan jalan kami dan memberikan apa yang terbaik bagi kami sekeluarga. Serasa belum lengkap, aku mewakafkan sejumlah uang ke yayasan “Rumah Yatim”. Jumlahnya memang tidak besar. Namun dalam keadaan ekonomi kami saat ini, uang sejumlah itu bisa sangat berarti. Tapi dorongan hati yang sangat kuat mengalahkan perasaan-perasaan negatif. Saya percaya bahwa Allah Maha Kaya, Maha Melihat dan Maha Adil. 

Uang itu sebenarnya adalah pendapatan saya yang memang sudah diniatkan untuk didermakan. Rencananya uang itu akan saya berikan saat ramadhan lalu. Namun, waktu itu saya berdiskusi dengan suami, sebaiknya siapa dulu yang kita beri: keluarga atau fakir-miskin-yatim?. Dan keputusannya adalah keluarga. 

Hati kecil belum merasa puas, karena memberi pada keluarga seharusnya menjadi kewajiban. Sehingga saya masih memupuk harapan untuk bisa berinfaq-shadaqah. Hingga begitu dorongan hati begitu kuat, tanpa seizin suami saya mendatangi yayasan “Rumah Yatim”.

Perbuatan baik yang tidak dilandasi niat, cara dan jalan yang baik, tentu tidak menghasilkan yang baik pula. Jadi hati saya pun tidak menentu. Walaupun uang yang saya serahkan itu adalah pendapatan saya sendiri, namun rasanya tidak sreg bila tanpa sepengetahuan suami. Hati saya juga ragu, takut pandangan suami malah menyurutkan keinginan saya yang sudah bulat tersebut. Namun dengan berbekal niat hanya untuk ridha Allah, saya pun menguatkan langkah..

Dan ketika ijab kabul terjadi, dimana penerima wakaf membacakan doanya untuk kami semua, tanpa bisa ditahan air mata yang sedari tadi hanya tergenang kini meluap tanpa henti. Gemuruh di dada menandai kebahagiaan yang tiada tara. Betapa ringannya perkara hidup kita dibandingkan mereka yang memerlukan bantuan kecil dari kita seperti ini. Sepanjang doa itu hatiku selalu berdoa agar doa-doa itu diijabah oleh Allah. Amin..
Saya mulai puasa hari senin.
Saya menyerahkan wakaf hari selasa.
Saya menerima telpon dari suami hari rabu. Dia bilang mendapat rejeki, seseorang memberinya kesempatan untuk ikut kursus pengembangan diri. Suatu kursus yang tidak murah biayanya dan lumayan bergengsi.
Subhanallah, Allahu Akbar...Sebegitu cepatnyakah kau memberi hadiah kepada kami, Alhamdulillah...
Ada semangat baru saat ini, percaya bahwa Allah akan mencukupi kita................

Semoga tetap istiqomah!

JUMAT, 30 OKTOBER 2009

Kamis, 07 Februari 2013

Fatimah Az-Zahra pun Mengeluh


Saat memasuki kehidupan pernikahan, pandangan hidup, cara berpikir dan tujuan hidup wanita cenderung  berubah. Dalam waktu singkat wanita akan menyadari bahwa menikah ternyata tidak berisi kebahagiaan dan ketenangan saja, tapi ada tanggung jawab yang besar dan juga berat disana. 
Sesaat setelah menikah, wanita menyadari bahwa beban yang ditanggung bukan saja urusan dirinya sendiri, tapi juga urusan suami, urusan anak, bahkan urusan keluarga besar suaminya pula.
Urusan yang banyak tersebut sudah pasti memakan sebagian besar waktu para wanita. Namun bagaimanapun, wanita membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Tapi tidak banyak wanita yang berani berinvestasi dengan meluangkan “me time”. Bagi sebagian wanita, “me time” mustahil dapat dinikmati, jika tanggungjawab  rumahtangganya terus menghantui. Seringkali kejenuhan terasa menyiksa dan membuatnya tersudut ke suatu titik yang menyesakkan.
Apakah anda pernah merasakannya? Apakah anda merasa sangat berdosa untuk berpikir seperti itu?
Oo, tidak usah teman, karena ternyata penghuni surga seperti Fatimah Az-zahrapun pernah mengeluh tentang beratnya mengurus rumah tangga. Apakah anda ingin tahu apa yang terjadi jika Fatimah mengeluh?
Mari kita simak ceritanya, semoga ada ibroh bagi kita semua.
FATIMAH AZ-ZAHRA PUN MENGELUH
Suatu hari Rasulullah SAW menyempatkan diri berkunjung kerumah Fatimah Az-zahra. Setelah mengucap salam, Rasulullah masuk dan mendapati Fatimah tengah menangis sambil menggiling syaiir (sejenis gandum ) dengan penggilingan tangan dari batu.
Seketika itu Rasulullah bertanya kepada putrinya. “Duhai Fatimah, apa gerangan yang membuat engkau menangis? Semoga Allah tidak menyebabkan matamu berderai.”
Fatimah menjawab, “wahai Rasulullah, penggilingan dan urusan rumah tangga inilah yang menyebabkan ananda menangis.” Rasulullah SAW duduk disisi Fatimah sambil mendengarkan. Fatimah berkata lagi, “sudikah kiranya Ayah meminta kepada Ali, suamiku, untuk mencarikan seorang jariah (hamba perempuan) untuk membantuku menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan rumah?”.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Rasulullah bangkit, diambilnya sejumput syaiir dan diletakkan diatas penggilingan sambil mengucapkan basmallah. Dengan izin Allah, penggilingan itu berputar sendiri. Selama penggilingan itu berputar Rasulullah tak henti bertasbih. Hingga ketika syaiir itu hampir habis, berkatalah Rasulullah, “ berhentilah berputar dengan izin Allah”.
Dengan izin Allah, penggilingan itu berkata dalam bahasa manusia, ” Ya Rasulullah, demi Allah yang telah menjadikan Tuan sebagai nabi dan rasul-Nya. Kalaulah Tuan menyuruh hamba menggiling syaiir dari timur hingga ke barat, niscaya akan hamba lakukan. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT:
‘Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu, keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkannya dan mereka mengerjakan apa yang dititahkannya’. 
Maka hamba takut kelak hamba menjadi batu dineraka.”

Setelah mendengar hal itu, bersabdalah Rasulullah, ”bergembiralah, karena engkau adalah salah satu mahligai Fatimah Az-zahra didalam surga!”.

Mendengar kabar baik itu bergembiralah sang penggilingan batu. Rasulullah memandangi putrinya seraya bersabda, “jika Allah menghendaki, niscaya penggilingan itu akan berputar untukmu. Tapi Allah menghendaki, dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan-Nya beberapa kesalahan. Sesungguhnya saat seorang wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya, Allah mengangkatnya beberapa derajat. Dalam setiap gandum yang tergiling Allah menuliskan SATU kebaikan dan mengangkatnya SATU derajat "

Kemudian Rasulullah meneruskan nasehatnya, ”wahai Fatimah, wanita yang berkeringat, ketika wanita menggiling gandum untuk suami dan anaknya,  Allah akan menjadikan jarak antara wanita itu dengan neraka sejauh tujuh parit.  Wanita yang meminyaki, menyisiri rambut anaknya, serta mencuci pakaian suami dan anaknya, maka Allah memberi pahala seperti orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang telanjang”.  Rasulullah SAW masih meneruskan nasehatnya, ”wahai Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridha’an suami terhadap istrinya. Jika suamimu tidak ridha, aku tidaklah akan mendoakanmu. Tidakkah engkau ketahui, ridha suami adalah ridha Allah SWT, dan kemarahannya adalah kemarahan Allah SWT?”.

Dengan pandangan lembut ia menatap Fatimah, menunggu reaksi sang buah hati. Namun Fatimah masih terpekur diam. Rasulullah menghela nafasnya sejenak, lalu melanjutkan nasehatnya. “Apabila seorang wanita mengandung, maka beristigfarlah para malaikat karena  Allah mencatat tiap hari sebagai seribu kebaikan dan menghapuskan seribu kejahatan. Apabila ia mulai sakit karena akan melahirkan, Allah akan mencatat seperti pahala orang-orang yang berjihad. Apabila ia melahirkan, hilanglah dosa-dosanya sesuci keadaan saat ibunya melahirkannya. Apabila ia meninggal dalam melahirkan, ia pergi tanpa dosa sedikitpun. Kelak ia akan mendapati kuburnya tersebut sebagai taman-taman surga. Dan Allah mengkaruniakan pahala seribu haji dan seribu umrah. Dan beristigfarlah seribu malaikat untuknya dihari kiamat.”

Fatimah  semakin menundukkan kepalanya, nasehat sang ayahanda membuat dirinya bergetar. Gema istigfar memenuhi ruang dadanya.

 ”Wahai Fatimah, wanita yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta dengan niat yang benar, maka Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya. Lalu Ia akan dipakaikan seperangkat pakaian hijau, dan dicatatkan untuknya seribu kebaikan untuk  setiap helai bulu dan rambut ditubuhnya. Wanita yang tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah memandangnya dengan pandangan rahmat. Wanita yang menghamparkan alas untuk berbaring atau menata rumah dengan baik untuk suami dan anaknya, maka berserulah para malaikat untuknya. Teruskanlah amalmu, maka Allah telah mengampunimu dari dosa yang lalu maupun yang akan datang. Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya, serta rela memotong kumis dan menggunting kuku suaminya, Allah memberinya minuman dari sungai-sungai surga. Dan kuburnya akan menjadi taman di surga. Dan Allah menyelamatkannya dari api neraka, serta selamat dari titian sirotulmustakim.”

***
Subhanallah!
Masih panjang lagi nasehat-nasehat Rasulullah pada putrinya tercinta dalam kisah ini.
Jadi pertanyaan yang muncul dikepala saya setelah merenunginya adalah:

Apakah saya rela menebus segala keringanan akan beban hidup berumahtangga, dengan ganjaran Allah yang nikmat. Ganjaran Allah yang akan diberikannya pada ibu-ibu rumah tangga  seperti kita, baik di dunia maupun di akhirat. 

Semoga Allah meridha’i semua amalan kita. Amin!
 

Keluarga Pak Wajdi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang