Tampilkan postingan dengan label inspiring story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiring story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Kita Bukan Gajah Kecil (lagi)

Pernah cari tahu bagaimana sirkus menjinakkan gajah? Ternyata ketika gajah kasih kecil, mereka memasang rantai di kaknya memancangnya pada sebuah pasak. Sampai besar, gajah itu diperlakukan begitu. Bedanya, kali ini rantai tidak lagi dipautkan pada apapun. Anehnya walau sudah tidak tertaut, gajah itu tidak pernah mecoba untuk lari atau pergi meninggalkan sirkusnya.

Memori masa kecilnya merekam, setiap ingin lari dia tidak berhasil. Kakinya terantai. Semakin keras dia mencoba semakin keras jatuhnya. Hingga akhirnya gajahpun berhenti mecoba, yang dia percayai hingga besar adalah "saya tidak akan pernah bisa".

Kita kah gajah itu?

Tanpa kita sadari, larangan-larangan yang acap kita dengar semasa kecil membuat kita berkembang menjadi manusia bernyali ciut.

"Jangan lari-lari, nanti jatuh!"

"Jangan hujan-hujanan, nanti sakit!"

"Jangan ikut campur, kamu masih keci!"


Sadarkah kita, kalau semakin dewasa kita justru malah semakin penakut, semakin tidak kreatif, semakin takut mengambil resiko, semakin mengkotakkan diri.

Waktu kecil, kalau ingin jajan harus minta dulu ke orangtua; kalau mau pergi harus seijin orangtua; harus ini harus itu. Setelah besar, memang tidak harus minta ijin lagi ke orang tua, malah lebih berat; minta ijin pada diri sendiri. "aku boleh begini gak ya?, "aku boleh begitu, gak ya?, "orang nanti sebal ga ya?", .. dan sebagainya. Kitalah yang membatasi diri sendiri.

Pikir-pikir, apa sih yang membuat kita takut? Takut di kritik? Takut dihina?
Bos Emak pernah bilang, "kamu jangan takut di kritik, di hina atau di marahin. Toh gak bikin bopeng, ga ninggalin tanda di muka kamu. Yang perlu kamu lakukan adalah menyaringnya.  Dengarkan yang bisa jadi masukkan, abaikan yang tidak ada artinya. Pilih mana yang perlu di dengar, dan mana yang harus dilupakan".

Nasihat itu betul-betul mengena ke hati Emak.

Ketika kita takut berbuat karena takut menerima respon negatif dari orang lain, maka kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Tidak melakukan apa-apa memang aman, karena tidak akan salah dan tidak akan benar. Tapi , kita kehilangan peluang untuk menunjukkan kemampuan kita.

There are always people who will acknowledge our capabilities, other than those who will despic.
So, saatnya jadi gajah yang besar.

Jangankan cuma matahin rantai, matahin hati orang juga sudah bisa kaaaannn???..   
#eaaaaaaa


Salam Emak!

#challengePBMday1st













Selasa, 28 November 2017

BERBUDAYA JEPANG, Bolehkah?


Kejepang-jepangan, Gapapa juga.. selama itu baik dan tidak berdosa..




  • Waktu kemarin dapat tugas Task Force Sensus Ekonomi 2016_Lanjutan, Emak melanconglah ke Bekasi. Kebetulan halan-halannya di Kawasan Industri. Tapi kenapa kok atmosfernya budaya Jepang banget, ya. Beda dengan atmosfer kerja yang biasa Emak rasakan.  Mungkin karena banyak sekali perusahaan Jepang di kawasan ini?. 
  • Di salah satu perusahaan Emak nemuin banner ini. Perusahaannya bergerak di bidang logistik. Tadinya Emak kira, bannernya bakal bernuansa filosofi tentang logistik gitu. Ternyata enggak sodarah-sodarah. Bannernya general banget. Jleb ke jantung Emak.. 
Apa maksudnya ini?
Apakah orang Jepang lagi nyindir pribumi?
Ataukah memang karena mereka menggunakan prinsip ini dalam keseharian mereka?

Ya sudahlah, apapun alasannya kita ambil saja yang baik dari mereka, betul tidak?

  • MARI KITA BUDAYAKAN 5S- 5R 

  • 1. SEIRI- Ringkas
    • Memilah, memilih dan memisahkan serta membuang barang yangtidak diperlukan secara sistematis.
  • 2. SEITON- Rapi
    • Melakukan penataan dan penyusunan barang, dengan kemasan dan sistem tertentu agar mudah disimpan dan mudah diambil.
  • 3. SEISO- Resik
    • Membersihkan dan memeriksa, agar tidak ada kotoran di tempat kerja sehingga tetap aman dan nyaman dalam bekerja.
  • 4. SEIKETSU- Rawat
    • Memelihara dan mempertahankan tempat kerja agar tetap ringkas, rapi, bersih dan teratur, harus dimulai dari diri sendiri.
  • 5. SHITSUKE- Rajin
    • Melakukan dengan cara terus menerus dan berkesinambungan, serta komitmen agar senantiasa menjadi budaya kerja.


  • Mungkin kalau kebanyakan pemilik perusahaan disini orang Jawa, filosofinya juga filosofi Jawa.. #artinya#whoknows di Jepang malah kawasan industrinya berisi orang Jawa. #bisayangpunyanya 😝 #bisajugayangkerjanya

    #kesimpulannya Saya mah ga keberatan kalau ada infiltrasi budaya luar, selama itu positif. Tapi, siap-siap saringannya ya brooo... Kata temen Emak yang ahli manajemen. Pabrik-pabrik memang rerata pakai budaya Jepang. Jepang terkenal dengan disiplin dan keefisienannya. Kalau kita maksa pakai budaya Jawa, belum tentu cucokrowo, apalagi kalau setiap keputusan harus buka primbon dulu.. oalahhhh
#bukan_rasis #joke_only

Sabtu, 14 Desember 2013

Teman-Teman yang Aneh



Banyak orang  yang mengatakan bahwa saya memiliki sebuah kelebihan yang menarik. Salahsatunya adalah kemampuan saya menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang yang mereka sebut ‘aneh’.  Aneh disini bisa berarti banyak hal, namun pada intinya mereka yang berpredikat aneh adalah mereka yang tidak ‘mudah’ untuk dijadikan teman. Bisa jadi, karena mereka terlalu tertutup atau mereka terlalu ‘menyebalkan’. Menariknya, ujar mereka, saya mampu berteman dengan orang-orang yang mereka anggap menyebalkan itu. 

Pernyataan teman saya membuat saya menjadi berpikir, masak iya sih?

Menurut prognosis teman-teman, kemungkinan besar aku ‘klik’ karena aku juga termasuk kategori orang ‘aneh’, sama seperti mereka: ‘bunch of gigs’ hahha…
Bisa jadi, bisa jadi…

 But, step back.
Let me think about it!

Yuk, kiat bedah satu persatu beberapa teman yang mereka anggap aneh:

1.       Seorang teman yang selalu tersenyum, menebarkan pujian, selalu bersikap ramah dan hangat. Saya benar-benar tidak habis pikir, kenapa semua orang yang mengenalnya begitu illfeel. Menurut saya dia adalah seorang yang  berpikir terbuka dan jujur. Kenyataan bahwa kejujuran itu menyakitkan, anak kecil juga tahu. Saya lebih suka orang berkata apa adanya daripada mengembel-embeli maksud dengan kiasan atau sindiran. Orang yang jujur lebih mudah dipahami, ketika ia memuji berarti dia benar-benar memuji, ketika dia menghina, berarti itu memang pantas untuk dihina.  Saya agak aneh, kenapa orang yang  suka memuji dan mengkritik tidak lebih  daripada orang  yang  tidak pernah memuji, hanya bisa mengkritik…hehe.

2.       Seorang  teman yang terlalu protektif pada dirinya sendiri. Orang ini menjadi manipulative, dan tertutup. Siasat saya untuk teman seperti ini adalah, mendengarkan, tidak banyak bertanya, mendorong dia melakukan hal se-positif mungkin. Dia tidak punya teman, saya sangat kasihan padanya untuk itu. Jadi, saya memilih untuk menjadi temannya, ada saat dia butuhkan. Teman seperti ini akan mencurahkan cinta dan kasihsayang tertulusnya untuk kita. Dan saya menikmati ketulusan itu.


3.       Seorang  teman dengan segudang pengalaman, dikenal banyak orang. Dia punya sayap yang sangat lebar jika dibentangkan. Lebih lebar bahkan dari bos kantor sekalipun. Dan saya mencoba mencari sumber masalahnya, kenapa semua orang membencinya:
Apakah dia bau badan? Tidak!
Apakah dia kurang cantik? Tidak! Malah bisa dibilang, salah satu sumber ketenarannya yang kecantikannya itu.
Lalu apa?
Ternyata, justru segala kelebihan yang dimilikinya adalah sumber masalah.
Kelebihannya:
1. Networking yang luas
2. Kelebihan fisik diatas rata-rata
3. Idenya yang sangat banyak
4. Berpikir out of the box
5. Pandai bersilat lidah
Lho, jadi apa masalahnya? Apa teman-teman yang lain tidak menyukainya karena dia terlalu menyedot perhatian sampai tak tersisa buat yang lain? Atau performance-nya membuat orang merasa kerdil?
Tidak!
Semua kelebihannya itu menjadi kelemahan karena dia tidak mampu menempatkannya dengan tepat, dan tidak mengkombinasikan semua itu dengan tanggung jawab.
Dia melempar ide-ide menarik lalu meminta feedback, langsung bergerak mencari cara agar idenya terlaksana APAPUN bayarannya. Sayangnya dia mengabaikan tugas utamanya, menelantarkan anak buahnya. Dia terlalu sibuk menanam kangkung buat lauk makan nasi, tapi dia lupa menanam padi (halahhh, berfilsafat lagi!!).

Saya termasuk orang yang tidak sepaham dengan cara kerjanya. Tapi karena saya sahabatnya, maka saya lebih leluasa untuk menegurnya. Saya suka berteman dengan dia karena saya paham tentang semua gejolak dan semangatnya yang berkobar-kobar. Saya bisa menangkap visinya dan saya senang membantunya mencapai visi itu. Sayangnya, seringkali dia melemparkan tanggungjawab teknisnya di pundak saya..haha. Untungnya sejauh ini saya tidak pernah merasa dirugikan.

4.       The last but not the least. Seorang teman yang sangat popular ke-“menyebalkan”-annya  sampai seantero negeri. It’s not a bullshit, I mean it! Tapi, kalau mereka mencoba menerima tingkahnya tanpa pretensi, menurut saya tidak semua salah tentang tingkah lakunya. Saya berkata demikian bukan tanpa proses. Saat saya tidak mengenalnya dekat, saya hanya meng-gugu saat orang mendikte saya bahwa dia menyebalkan. Tapi saat saya mengenalnya dekat, saya dapat melihat kecerdasan yang menjadi sumber ke’berisikan’nya. Saya juga bisa melihat bahwa dia bisa termasul life-work balance persona. Dia membuktikan produktivitas yang tinggi, instead of OMDO. Dia bisa menjadi sangat hangat dan bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Dan saya kira saya nyaman berteman dengannya.

Kalau diuraikan begini, saya merasa beruntung untuk mengenal  mereka. Bergaul dengan mereka memperkaya hati saya.

Kita tidak akan tahu kelebihan seseorang jika kita tidak mencoba mengenalnya dari dekat.

PS:
It’s not easy making friends, but it’s easier to be friendly. 

 

Minggu, 24 November 2013

BUILD OUR OWN LEGACY


 Menciptakan Sesuatu yang Dapat Kita Wariskan 

"Berharap masih mampu membentuk kader-kader baru"

Status di BB seorang mantan bos membuat Bunda gatel untuk komen. Soalnya setahu Bunda beliau itu orang yang sangat mampu dan sangat mau untuk membina anak buahnya. Dan sejauh  yang Bunda rasakan, cara beliau membina itu jauh dari doktrinase apalagi intimidasi,  nyaman..itu kesan terkuat yang bisa Bunda gambarkan. Ketika berada dalam bimbingannya kita tidak merasa untuk ja-im alias jaga image, bahkan berlagak bodoh sekalipun kita gak akan mau dihadapan beliau. Karena prinsip beliau adalah: "Bodoh itu ga dosa, gak mau belajar itu yang haram!"

Jadi, kalau si bos meragukan dirinya sendiri seperti ini, Bunda harus komen!

Ketika Bunda tanya alasan beliau berstatus seperti itu, ternyata masalahnya cuma umur. Beliau merasa diumurnya yang ke 49 ini, peluangnya untuk tetap konsisten memelihara prinsip-prinsipnya mulai goyah. Bukan karena kehilangan kesabaran atau berniat pindah haluan. Dia cuma merasa bahwa diumurnya yang hampir setengah abad ini tidak banyak orang yang memberi kepercayaan baginya.

"Please deh Pak, LIFE BEGIN AT 50!" Begitu Bunda bilang. Salah kalau beliau pikir umur 50 akan membatasi mimpinya. Justru bisa jadi ini adalah saat yang paling kondusif untuk membangun warisan yang akan ditinggalkannya setelah pensiun nanti. Warisan yang membuatnya terus dikenang. Kalo ga kita sendiri, siapa yang mau membangun warisan untuk anak-cucu dimasa depan?

Happy Birthday Pak Dudung!

Jumat, 10 April 2009

PELAJARAN SEDIH DARI JENGIS KHAN

PELAJARAN SEDIH DARI JENGIS KHAN

Suatu hari yang cerah disekitar abad ke-13, hari itu adalah hari berburu sanag raja yang terkenal dengankeberaniannya itu. Diikuti para sahabat dan prajuritnya yang setia raja menunggang kuda dengan riang gembira. Dipergelangan tanggan raja bertenggerlah seekor rajawali kesayangannya. Elang itu sudah terlatih untuk mengintai mangsa dengan mata yang tajam. Bila dia melihat mangsa maka ia akan menukik tajam dan menyerangnya seperti anak panah.
Tidak seperti biasanya tidak nampak tanda-tanda mangsa yang bisa diburu. Cuaca hari itu memang sangat terik. Setelah hampir seharian mencari, akhirnya rombongan memutuskan untuk pulang. NAmun Khan memisahkan diri dari rombongan. Khan mempunyai kebiasaan untuk memilih jalan yang berputar. Kebiasaan inilah yang membuatnya hafal tiap jengkal hutan.
Setelah seharian berburu, ternyata persediaan air minumpun habis, tak disadari saat melihat genangan air, Khan teringat akan rasa hausnya. Dengan perlahan-lahan ia mendatangi air tersebut, ternyata airnya terus menguap sehingga tidak bisa diraup. Akhirnya Khan memutuskan untuk menadah tetesan air yang jatuh dari tebing batu.
Dengan sabar Khan menunggu gelas perak yang dibawanya dipenuhi air. Ketika cangkir hampir penuh, dan rasa haus sudah mencekat tenggorokan, Khan mendekatkan cangkir ke mulutnya. Hampir saja rasa hausnya lenyap, jika sang rajawali tidak mengibaskan sayapnya. Cangkir itu jatuh dan airnya tumpah lalu menguap. Khan menggeram, namun ia mulai menadahkan lagi cangkirnya, kali ini ia tidak cukup sabar untuk menunggunya sampai penuh. Lagi-lagi rajawali menukik dan menyambar, membuat cangkir itu klembali jatuh. Khan sangat marah, dan bersumpah akan mematahkan lehar rajawali itu kalau dia sampai tertangkap. Kali ini Khan menadahkan kemablai cangkirnya, namun kali ini dia telah siap menghunuskan pedangnya.Sudutmatanya mengawasi gerak-gerik rajawali itu. Ketika si rajawali kermbali menukik, dengan sigap diayunkannya pedang itu, dan bress...kepala rajawalipun jatuh dikaki Khan penuh lumuran darah.
“Itulah hukuman bagi siapapun yang tidak bisa senang dengan kesenangan orang lain.”
Dengan kesal ditendangnya bangkai rajawali itu. Tanpa sengaja ternyata cangkirnya pun ikut tertendang, jatuh ketempat yang tidak bisa dijangkaunya. Khan memanjat tebing mencari sumber tetesan air, karena sekarang ia tidak punya cangkir untuk menadah tetasan air. Sesampainya diatas dia berhasil menemukan genangan mata air yang jernih. Namun, bukan kesenangan yang dirasakan Khan, karena disana diapun melihat bangkai seekor ular berbisa yang racunnya sangat berbahaya.
Khan mematung dan mengingat rajawali kesayangannya yang mati ia tebas di bawah sana.
“Rajawali telah menyelamatkan hidupku, dan aku malah membunuhnya!”
Dengan perasaan galau Khan memasukkan rajawali ke dalam tas berburunya. Ia memacu kudanya agar segera sampai ke istana.
Hari itu Khan mendapatkan pelajaran sedih yang sangat mahal harganya: Jangan pernah melakukan apapun di saat marah.

PELAJARAN DARI BIJI KOPI

Akhir-akhir ini ibu memperhatikan tingkah laku putri remajanya yang sedikit lain dari biasa. Kegelisahan sangat jelas dari bahasa tubuhnya. Ibu mencoba untuk memperlakukan sang putri sebagai orang yang dewasa. Ia tidak berusaha untuk menanyakan apa yang mengganjal perasaan putrinya tersebut. Ia percaya sang putri bisa mencari jalan keluarnya sendiri.
Tidak tahan dengan perlakuan sang Ibu, putrinya itu pun langsung menumpahkan semua keluh kesahnya. Tanpa memotong Ibu hanya mendengarkan dan mendengarkan.
“Kok, Ibu diam saja sih? Aku kan sudah menceritakan semuanya. Jadi menurutmu Aku harus bagaimana?” tanya putrinya penuh ketidak puasan.
Ibu tersenyum. Tanpa banyak bicara Ia bangkit dari kursinya dan menarik tangan putrinya ke dapur.
Ibu mengambil tiga panci dan mengisinya dengan air. Dibiarkannya air itu mendidih dan memasukan wortel, telur dan biji kopi masing-masing pada satu panci.
Setelah semua matang, diletakkan ketiga benda matang tadi ke atas piring. Ia menyuruh putrinya mendekat.” Coba katakan apa yang kamu lihat?”
“Wortel, telur dan kopi”
Ibu mengangguk, lalu dia menyuruh putrinya untuk mencicipi semuanya. Walau penuh rasa heran ia melakukan apa yang diperintahkan ibunya. “Apa maksudnya, Bu?”
“Sayang, ketiga benda itu menghadapi kondisi yang sama: air mendidih. Tapi masing-masing memberikan reaksi yang berbeda. Wortel yang keras, menjadi lunak. Telur rapuh dengan kulit tipis dan isi yang cair, sesudah kena air panas, kulitnya tetap rapuh tapi isinya menjadi keras. Hebatnya kopi justru mengubah air sedangkan bentuknya sendiri tetap sama.”
“Ibu ingin aku memilih seperti apa aku dalam menghadapi masalah-masalahku?” tanya sang putri sambil memegangi tangan Ibu. Ibu mengangguk.
Hidup tidak pernah mudah bagi siapapun. Baik bagi yang kaya, yang miskin, yang cantik, yang jelek. Semua tergantung bagaimana kita bereaksi. Apa kita menjadi lemah setelah menghadapi kesulitan. Atau hati kita malah menjadi keras dan beku, namun tetap mudah terluka. Atau kita bisa mengubah kemalangan yang menerpa,sehingga menjadikan situasi disekitar kita menjadi lebih baik. Seperti kopi yang malah mengeluarkan aroma dan cita rasanya ketika dia terkena air mendidih.




ini jelas bukan kisah original, ini adalah cuplikan dongeng yang pernah tersiar lewat kabar yang sempat membekas dihati..mohon dimaafkan bila disimpan dalam blog ini, sekedar membagi inspirasi. IS that OK?

KISAH IBU BERMATA SATU

Alkisah, tersebutlah seorang ibu miskin bermata satu yang tinggal bersama putra tunggalnya di sebuah gubuk sederhana. Untuk menghidupi dan menyekolahkan anaknya, sang ibu menjual makanan dana menerima pesanan. Suatu hari sekolah tempat anaknya belajar memesan makanan untuk guru-guru. Ketika mengantar makanan ke sekolah, sang ibu menyempatkan diri untuk melihat anaknya. Dengan penuh sukacita, ibu menyapa anaknya yang sedang bermain dengan teman-temannya.
Segera ibu tersebut menjadi pusat perhatian anak-anak. Bahkan sebagian ada yang mengejek dan menertawakannya. Anak tersebut menjadi sangat malu, ia lalu mengacuhkan dan lari meninggalkan ibunya.
Sepulang sekolah, anak itu langsung menemui ibunya dan bertanya, “ Mengapa ibu ke sekolah dan mengapa ibu memepermalukanku?”
Ibu tidak bisa menjawab, ia hanya meneteskan airmatanya dan terdiam. Namun putranya tidak merasa iba karena marah.
“Kalau ibu hanya bisa membuatku malu, kenapa ibu tidak lenyap saja dari muka bumi ini?”
Kata-kata putranya itu semakin membuat air mata ibu menderas. Putranya pergi sambil membanting pintu.
Hari demi hari rasa benci sang anak tak pernah berkurang. Tekad telah dibulatkan, setelah lulus sekolah dia akan pergi dari rumah dan mencari kehidupannya sendiri. Karena kecerdasannya, sang anak berhasil mendapatkan beasiswa dari luar. Anak tersebut berhasil membuktikan kecerdasannya, dia lulus dengan peringkat terbaik. Tak ayal banyak perusahaan yang berebutan untuk mendapatkannya. Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar.
Setelah punya rumah dan mobil, tak lama kemudian sang anak menikah kemudian mempunyai anak. Ibu hanya mendengar kisah keberhasilan anaknya dari gunjingan tetangga. Betapa mereka sangat mengasihani si ibu karena mempunyai anak durhaka, yang tidak pernah menengok ibunya. Padahal ia kaya, tapi ibunya dibiarkan sakit-sakitan di gubuk reot. Si ibu menyanggah semua itu, dia mengaku memang melarang anaknya untuk datang. Sebaliknya si Ibu lah yang sering disuruh singgah di rumah besarnya. Tapi tentu saja para tetangga tidak percaya begitu saja.
Karena begitu seringnya tetangga mencecarnya, tidak terasa rasa rindu yang selama ini terpendam meluap sudah. Dengan penuh semangat ia mendatangi rumah anaknya itu.
Ketika ia berdiri di depan pintu anak-anak menertawakannya, bahkan salahsatu dari kedua cucunya itu mengejek matanya yang hilang. Sang anak langsung keluar melihat sumber kericuhan. Begitu tahu kalau yang membuat kericuhan itu adalah ibunya, tanpa ragu dia mengusir ibunya pergi. “Belum cukup kau mengahncurkan masa kecilku? Apakah sekarang kau datang untuk menghancurkan seluruh masa depanku. Pergi kau dari sini! Aku tidak mau melihatmu lagi! Kau begitu keras kepala. Tidak heran ayahku tidak tahan padamu dan mati duluan. Padahal kalau dia masih hidup mungkin kita tidak miskin seperti itu.”
Bagai disayat sembilu, hati ibu begitu sakit. Dan diapun pulang dengan penuh kesedihan.
Waktu berlalu. Suatu hari pria itu menerima undangan reuni di kampung halamannya. Sebenarnya dia tidak ingin sama sekali pergi ke kampung itu. Dia benar-benar ingin meninggalkan jejak buruknya di masa lalu. Tapi, karena dia mulai ikut melakukan kegiatan politik yang menuntut untuk berhubungan dengan orang banyak terpaksa ia datang. Saat dia memasuki kampun halamannya, dia melihat begitu banyak orang berkerumun di depan gubuk tua milik ibunya. Hanya karena ingin tahu dia melongok ke dalam dan mendapati bahwa ibunya telah meninggal. Tanpa perasaan gundah dia hanya berkata bahwa memang sudah seharusnya wanita tua seperti ibunya itu mati. Karena kalau hidup pun hanya menyusahkan orang saja. Sakit-sakitan dan ingin diperhatikan.
Ketika dia akan pergi meninggalkan gubuk itu. Seorang tetangga memanggil untuk mendengarkan surat wasiat di ibu. Dengan enggan iapun kembali masuk. Tetua masayarakat kampung itu mulai membacakan surat wasiat si ibu.

“Saya tidak yakin bahwa surat ini akan dibaca oleh siapapun. Karena agaknya, satu-satunya harapanku, yaitu putraku, pun tidak mungkin kupaksa untuk membaca surat ini.
Walaupun kenyataannya surat ini hanya akan tertiup angin, terinjak-injak begitu saja, terhempas ke bibir pantai, dan yang membacanya pun tidak mengenalku, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersaksi, bahwa kalian semua salah. Anakku tidak seburuk yang kalian sangka. Semua perlakuannya kepadaku memang pantas dia lakukan, karena dia tidak tahu. Sejak kecil dia adalah anak yang cerdas dan lincah. Dia suka mencoba hal baru meskipun itu berbahaya. Suatu hari dia sedang mencoba bola baru yang dibawa ayahnya. Tapi tiba-tiba bola itu menggelinding ke tengah jalan, tanpa ragu dia berlari mengejarnya. Suamiku melihat sebuah kereta kuda yang berlari kencang ke arah anakku, dia berlari mencoba menahannya. Tapi nasib berkata lain, suamiku tewas terinjak kuda yang tidak bisa ditahan lajunya, dan anakku tertusuk matanya oleh serpihan-serpihan kereta yang hancur. Aku sedih karena kehilangan suamiku tapi aku tidak mau anakku sedih karena kehilangan matanya. Maka aku putuskan untuk memberikan satu mataku untuknya. Jika aku menjadi buruk rupa karena mataku cuma satu itu bukan salahnya, tapi itu salahku. Kalaupun aku bisa mnyerahkan nyawaku tentu aku juga akan memberikannya pada suamiku. Jika kemudian dia memarahiku karena memberikan kehidupan yang hina dina pun aku tidak akan marah padanya. Karena cuma itu yang aku punya. Sampaikan pada anakku, bahwa aku akan bersamanya, selalu. Dan aku minta maaf untuk itu.”

Si anak hanya bisa memegang matanya. Ya, ibu akan terus hidup bersamanya selalu. Bukan hanya dalam rongga matanya, namun juga dalam rongga dadanya.
 

Keluarga Pak Wajdi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang