Tampilkan postingan dengan label dear diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dear diary. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Ikutan Seminar WAG Perempuan BPS Menulis II: "Mengomunikasikan Data melalui Opini"


Masih ingat dengan postingan Emak tentang #PerempuanBPSMenulis kan? Alhamdulillah bulan ini, kembali digelar Seminar WAG di komunitas ini untuk kali kedua. Topiknya masih seputaran menulis Opini.  Berbeda dengan sebelumnya narasumber seminar kali ini adalah seorang perempuan. Perempuan hebat yang benar-benar inspiratif.

Salah satu tugas yang diberikan oleh admin setelah Emak mengikuti Seminar WAG PBM ini adalah menulis ulang paparan narasumber. Tujuannya, selain berbagi ilmu tentu saja untuk melatih anggota untuk menulis. 

Narasumber Seminar WAG PBM II ini betul-betul inspiratif. Bagaimana tidak, diusianya yang masih muda (dibandingkan Emak tentunya ๐Ÿ˜‚ ) beliau sangat produktif. Bayangkan tidak kurang dari dua tahun, beliau sudah menembus 14 media, dengan jumlah tulisan yang dimuat sebanyak 69 opini. Luarrrr byasahhh..

Namun, yang lebih luar biasa adalah kemampuan beliau untuk mengelola waktunya. Mengurus lima anak pastinya tidaklah mudah. Kalau sudah begini, Emak jadi malu sendiri. Setua ini masih 'malas' dan 'ragu' untuk 'beraksi'. Apalagi alasan Emak 'bermalas-malasan' adalah karena mau konsentrasi  mengurusi anak. Jadi malu hati, deh.  

Contoh yang baik harus diteladani, seperti filosofi ~Sendal Mushola~, ambil yang baik dan tinggalkan yang jelek. Maka, tidak ada alasan bagi Emak untuk tidak mencontoh yang baik dari Mbak Tasmillah, dan meninggalkan kebiasaan buruk Emak yang lama. Jika saja seekor bebek bisa berubah menjadi angsa, kenapa tidak Emak-pun berubah dari 'Emak Buruk Rupa' menjadi 'Emak yang Berguna'. Hahayy..

Nah, kalau ada yang penasaran pingin lirik apa saja yang disampaikan oleh Mbak Tasmillah, narasumber Seminar PBM IIini, boleh cari di sini ya. Blog yang itu insyaallah diniatkan untuk diisi dengan hal-hal yang 'bermutu'.. 

Makasih ya sudah mampir ke blok Emak. Jangan lupa mampir juga ke blog yang satunya. Di tunggu, lhoooo....


Salam Emak!
#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita
#HariKe-15

Rabu, 21 Februari 2018

Balada Skandal Jepit



Cerita Sendal Jepit

Dulu sendal jepit merk 'Swallow' sudah termasuk sandal kelas bagus. Bahannya yang terbuat dari karet membuat harganya lebih mahal, sementara pesaingnya terbuat dari gabus yang teksturnya kaku. Sendal gabus kalau sudah terlalu lama dipakai akan melengkung, jelek kelihatannya. Sementara sendal yang terbuat dari karet, semakin lama dipakai semakin lentur. Walau menipis dan bolong pun dipakainya tetap nyaman. Kalau dipikir-pikir tidak semua sendal dengan bahan karet merknya "Swallow", tapi entah kenapa Emak selalu menyebutnya begitu.

Seiring dengan perkembangan ekonomi, sendal jepit semakin ditinggalkan. Kalau pun ada, digunakan untuk di rumah atau pengganti kelom-kelom kayu berpenampang sepotong karet ban di Masjid/Mushola.

Selalu ada celah untuk inovasi, Skandal Jepit

Selalu ada celah untuk kreatifitas dan berinovasi. Celah itu terlirik, oleh para inovator. Ada yang terpikir untuk menamai sandal dengan tulisan "Milik Masjid/Mushola". Emak dengan sepenuh prasangka baik, percaya bahwa alasannya supaya orang yang pakai sandal itu tidak khawatir sandal yang dipinjamnya adalah milik orang lain. Bahwa semua jamaah boleh memakainya tanpa perlu ijin dahulu. Mereka akan tenang Wudhunya..begitu.

Tapiiiiii, (mulai racun) Emak curiga.. jangan-jangan tulisan segede itu ada maksud lain. Pasti maksudnya supaya yang make sendal malu kalau bawa sendal itu keluar dari Masjid atau Mushola. Artinya, sendal itu ga akan hilang/lenyap karena ada yang 'sekedar' khilap.

Tapiiiiii,, (mulai racun) Emak curiga jangan-jangan walaupun angka IPM Indonesia terus meningkat, sebenarnya masih banyak manusia Indonesia yang buta aksara. Buktinya biar ditulisin segede gambreng di sendalnya, sendal mushola masiiiiiih aja hilang/lenyap tak bersisa. Hadeuhhh..

Istighfar dulu ahhhh..biar racunnya hilang.

Ikhlaskan!

Jadiiiiiiii, mumpung masih baru, masih utuh, warnanya masih selengkap pelangi di musim hujan, Emak foto dulu ya. Biar ada barbuk, bahwa dana itu benar dipaai buat membeli sendal. Sesaat lagi mereka hanya berupa kenangan. Bukti otentik bahwa mereka pernah berbakti di Mushola ini.

Semoga jadi amal bagi para pemberi shodaqoh, yang telah membagi sebagian hartanya untuk membeli sandal-sandal ini. Sandal yang melayani para hamba Allah untuk bersuci sebelum menghadap Rabb-nya.

Mereka kecil, tapi mereka berguna..



Balada Sandal Mushola
Salam Emak!

#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita

#HariKe-14

Selasa, 20 Februari 2018

Quote: Salah Satu Cara Menyenangkan untuk Belajar Bahasa Inggris




Emak itu (katanya) termasuk generasi X. (Katanya) generasi X cenderung suka akan risiko dan pengambilan keputusan yang matang. Generasi X adalah hasil peralihan dari pola asuh generasi Baby Boomers yang 'keras', dengan masa awal perkembangan teknologi informasi.

Jaman Emak, pelajaran Bahasa Inggris baru dipelajari di bangku SMP. Sekarang anak TK saja sudah banyak yang cas-cis-cus. Mama-Papa banyak membantu Emak-kecil belajar Bahasa Inggris waktu itu. tapi, kalau diingat-ingat lagi sekarang ternyata banyak pronunciation mereka yang kurang 'pas'. Misal, thank you (หˆthaล‹k-หŒyรผ \ ), dibacanya chaล‹k-หŒyรผ \, ngomongnya pake muncrat dikit xixi. Mungkin karena generasi Baby Boomers masih kuat dipengaruhi gaya pendidikan Belanda.

Emak-kecil (waktu itu) kutu buku, suka sekali baca buku. Sedih ketika ada buku  yang menarik tapi isinya bahasa Inggris. Makanya, berusaha menambah vocabulary dengan menghapalkannya dari kamus. Sayangnya, Emak memulai dari Oxford Dictionary, saking tebelnya hingga ujung lulus SMA Emak masih berkutat di bagian kamus dengan kata yang berawalan "A".. kata yang paling Emak hapal adalah 'Abandon' dan 'Abundant'... lol.


Cukup lama Emak sadar itu cara yang kurang efektif untuk berlatih Bahasa Inggris. Lalu Emak mulai ganti strategi, yaitu dengan mengumpulkan quote-quote dalam Bahasa Inggris. Tidak berhasil benar.. tapi setidaknya 'it's a fun way to learn and practice'. Emak punya buku notes khusus yang isinya quote-quote tersebut. Bagi yang pernah baca tentang 'hoarder", boleh dibilang I was a quote hoarder back then. Jangan dibandingkan dengan jaman now ya. Waktu itu nyari quote ga gampang, soalnya mbah google waktu itu belum lahir..

Tentunya cara ini ga 'plek  bisa diterapkan ke anak-anak, secara passion mereka beda banget dengan Emak. Lagipun, anak jaman now yang konon adalah generasi Y, sudah ga butuh kita buat belajar Bahasa Inggris. Mereka lebih pintar, karena bahasa inggris lekat dalam daily practice mereka (game maksudnya huhh.. #melenguh). Ga kaget kalau seringkali mereka mengkoreksi kalau Emak salah ngomong atau salah grammar.

Emak memang beda jaman dengan anak-anak. Emak sadar, ga selamanya orangtua selalu benar, dan ga selamanya orang tua lebih tau dari anaknya. Tapi ya Sudahlah, Emak serahkan pada anak-anak bagaimana mereka menikmati cara mereka dalam menikmati berbahasa. Yang penting Kaka Jaka harus rela kamar dindingnya dtempeli lettering quote Emak.. Kalau ga kalian siapa lagi yang rela, Nak? Plissss...


Salam  Emak!


#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita

#HariKe-13


Senin, 19 Februari 2018

Emak Masih Menyimpan Mimpi dalam Mimpi, namun Adapula Mimpi yang Cepat menjadi Nyata


*foto ini dibikin waktu Emak lagi seneng lagi bikin 'lettering quote' gitu. Quotenya ditempel di dinding kamar Kaka Jaka. jadi buat moto ini kaki Emak naikin ke tembok. Tenang aja sepatunya masih baru kok belum kotor. Bukan buat pamerin sepatu, cuma biar matching aja dengan warna quotenya yang merah manja merona kayak warna lipensetip Emak. Tapi ga mungkinkan moto quotenya sambil pamer bibir kannnnn... #takutbanyakyangjijik


Semua orang punya mimpi. Mimpi itu adalah pilihan. Mimpi itu ada yang mudah didapat, ada yang tidak. Ada yang memilih untuk menggapainya, ada yang tidak. Emak sendiri sedang memilih untuk menyimpan mimpi Emak. Emak suka banget quote ini karena mengingatkan, bahwa Emak harus segera memetik bintang di langit dan menjadikan mimpi tidak sekedar mimpi.

Ah tapi, mungkin belum sekarang. Emak masih menikmati tidur panjang ini. Masa dormansi yang entah kapan akan Emak sudahi. Emak sedang berjuang mengumpulkan energi. Beberapa teman menjulurkan tangannya untuk membantu Emak menggapai mimpi ini, Emak masih berpikir kedua kali.

Mimpi Emak masih terlalu indah untuk dinikmati saat bermimpi. Emak takut untuk bangun dari tidur panjang ini.

Takut, karena dalam kenyataannya ketika Emak terluka, Emak akan merasakan sakitnya.

Ketika Emak jatuh, Emak akan merasakan lebamnya.

Ketika, pipis Emak merasakan hangatnya.. Uupssss. agaknya sekarang waktunya Emak bangun. hangat itu sepertinya nyata. Permisi Emak mau ke kamar mandi dulu yaaaaa dadaaaaaagg....


Salam Emak!

#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita

#HariKe-12

Sabtu, 17 Februari 2018

Harga Helm Makin Mahal, Emak Belum Ingin Beli yang Baru

Pada dasarnya Emak itu orangnya sangat kritis. Sangat gampang mengkritik, lebih tepatnya. Tapi belakangan, Emak belajar mengendalikan diri. Setidaknya untuk tidak lagi terlalu frontal. Sebelum mengutarakan kritik, Emak berlatih untuk melihat dari perspektif yang lain. Gara-gara ini Emak jadi sadar, sebenarnya tidak pernah ada yang namanya 'salah'. Salah itu cuma istilah untuk menggambarkan adanya 'perspektif yang berbeda'.

Namun kalau pandangan ini kebablasan ternyata berbahaya juga lho. Emak merasa menjadi tumpul, dan kurang berkontribusi. Menjadi orang yang mencoba memahami banyak perspektif membuat Emak menjadi fleksibel dan berusaha mengatasi masalah setelah masalah itu timbul. Emak kehilangan ketajaman dalam mengidentifikasikan masalah dan tidak terlatih lagi untuk antisipatif. Sebagian orang yang tidak paham akan menilai Emak sebagai orang yang mencla-mencle, kanan-kiri oke.. dll.

Well, memang mustahil kita menyenangkan semua orang. Bahkan ketika kita menjadi orang yang baik sekalipun, ada saja orang yang 'ngrasani'.

Mmmh, agaknya Emak mulai berfikir untuk kembali berlatih menjadi pribadi yang kritis lagi. Mungkin kali ini alirannya di per-advance (istilah apaaaa cobaaaaa #ngarang), KRITIS YANG BIJAKSANA (modified critism). Apa itu definisi dari kritis yang bijaksana? Kritis yang bijaksana adalah kritis dalam dosis rendah. Dengan aturan pakai yang sesuai takaran resep dokter jiwa. Bahaya kalau overdosis, karena efek sampingnya adalah: bertambahnya jumlah musuh dan peningkatan kadar kekerasan kepala. Orang yang keras kepala biasanya diciri-cirii dengan kepala yang membesar. Bahayanya jika terjangkit penyakit ini adalah, susah pake helm, ga muat!!!

... dan Emak belum pingin 'buang duit' buat beli helm baru.




Udah ah nglanturnya..

Salam Emak!

#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita


#HariKe-11

Jumat, 16 Februari 2018

Emak Bertanya: Perlukan Membantu Teman dengan Gaya Hidup diluar Kemampuannya?

"With great power comes great responsibility"
-Voltaire


Suatu ketika disiang bolong, sebuah sms tiba di kotak pos HP Emak. Asalnya dari nomor tidak dkenal. Emak buka dengan tergesa, khawatir berita penting yang dibawa. Rupanya sapaan mesra dari teman yang lama tidak berjumpa. Emak menjawabnya pun dengan mesra, walau sedikit curiga karena setelah kami chit-chat seadanya dia tidak mengatakan apapun yang begitu penting. Oh, mungkin dia hanya melepas rindu, bisik Emak berbaik sangka. Chit-chat kami pun berakhir dengan saling mendoakan untuk kebaikan kami masing-masing.

Beberapa hari berselang, dia menyapa via sms lagi. Emak meladeni sekedarnya. Maklumlah, saat itu masih jam kerja. Dia mulai curhat ina dan inu. Ujung-ujungnya.... minta tolong... ga jauh-jauh... minjem duit! Dia butuh duit buat bayar sekolah anaknya. Anaknya sekolah di sekolah ternama dengan bayaran yang terkenal duilaaa... Emak terhenyak. Emak, hanya menyekolahkan anak-anak di sekolah negeri. Sadar dengan kemampuan ekonomi yang banyak keterbatasan. Tiba-tiba Emak terjaga, apakah Emak perlu menolongnya? Sepertinya secara ekonomi, seharusnya dia lebih berada daripada Emak. Di facebook seringkali dia memposting fotonya sedang berfoto dengan kendaraannya. Kadang juga memposting foto-foto ketika sedang kuliner dan berwisata. Sedangkan Emak? wadohhhh....

Dilema..

bantu?

tidak?

bantu?

tidak?

mudharatkah?
manfaatkah?

Teringat quote Voltaire yang dikutip dalam "Spiderman"
~ kekuatan yang besar selalu dsertai dengan tanggung jawab yang besar pula~

Emak jadi sadar bahwa, ketika Allah memerintahkan kita untuk menjadi manusia yang "berkekuatan", kuat mental, kuat harta, kuat ilmu bukan untuk berjumawa. Kekuatan itu bukan membuat kita menjadi nampak besar dan merasa patut dihormati, tapi membuat kita mampu untuk 'digandoli' masalah-masalah yang sebetulnya bukan masalah kita. Kita menjadi jalan bagi Allah membagi berkahNya.

Sekali lagi Emak teringat sms teman tadi.
Sepertinya urusan seribu dua ribu Emak masih bisa bantu. tapi urusan teman dengan gaya hidup yang 'begitu', apakah Emak pantas untuk membantu.. Emak masih ragu..

Sesungguhnya Allah tempat mengadu...
Ada yang punya saran, Emak harus bagaimana?



Salam Emak!

#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita


#HariKe-10

Kamis, 15 Februari 2018

Ketika si Doi Menikmati Pekerjaannya


Beberapa orang ga akan percaya kalau diceritain, si doi akan jatuh terlelap dalam 5 menit sejak duduk di kursi bioskop; 10 menit sejak 'gogoleran' depan tipi; atau 2 menit sejak istrinya mulai nyap-nyap.

Beberapa orang tahunya, si doi bisa ga tidur semalam suntuk kalau udah mulai ngomong sendiri atau mulai cetak-cetekin kibor kompinya.

Bagi sebagian orang adrenalin rush itu muncul saat bungee jumping, atau negbut-ngebutan di jalanan ibukota, tapi bagi si doi adrenalin rush itu justru muncul saat begini ini, stressfull pressure-high expectation-heavy responsibility.

Kebayang deh, jedag-jedug jantungnya ngalah-ngalahin kalau doi over dosis caffeine kopi Starbucks.

si Doi kalau dapat tantangan begini, bisa lupa betapa pelornya beliau. Begadang berapa malem pun, dijabanin. Demi tantangan ini, si doi sampe lupa jadwal ngontak istri (untung istrinya sabar dan sholehah). Walaupun memang, setelah pekerjaan selesi, si doi akan bayar tidurnya 2x lipat. Itu pun belum tentu cukup buat ngembaliin staminanya. 

Sehat-sehat ya, si doi-ku.

Emak cuma bisa menghiburmu dengan sebuah lagu.. ๐ŸŽผ"pak tua sudahlah...engkau sudah terlihat lelah ouuuoo". ๐ŸŽค๐ŸŽถ



Salam Emak!
#balada #iwanfals
 #PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita


#HariKe-8

Rabu, 14 Februari 2018

Behind the Scene: Ko P SP2020

Berawal dari obrolan-obrolan ringan saat si doi menghisap-hembus batang bertembakaunya. Tercetus ide-ide liar itu..

Berawal dari selftalk saat malam-malam diujung kantuk. Terbersit ide-ide konyol itu. .

Saat si doi tertawa geli sendiri, Emak tanya kenapa. "Mirip merk kecap!", jawabnya. Emak melenguh, ga ngerti.. terlanjur ngantuk, Emak biarkan saja si doi menikmati petualangan kreatif dalam benaknya itu.

Kick Off Meeting Sensus Penduduk 2020 (BPS)

Besok pagi, si doi udah asyik ngonsep-ngonsep. Mulut Emak mulai manyun dikit. Maunya sih ngelarang si doi kerja saat weekend. Mosok 2 hari di rumah yang di kepalanya tetep kerjaan juga๐Ÿ˜ช. Tapi apa daya, si doi ga pernah larang kalau Emak sibuk urusan kerjaan juga. SATU SAMA. Manyunnya diilangin deh, dengan terpaksa๐Ÿ˜†.

Besokkannya, mulai anaknya dikerjain, disuruh bikin sketsa inilah-itulah. .



Hari ini beberapa ide liar dan ide konyol itu terlaksana sudah. Ide yang tidak berakhir dikertas konsep, atau obrolan omong kosong di kala senggang.

Dukungan dari orang-orang yang percaya pada si doi, dan pastinya ridho Allah SWT, memungkinkan semuanya lancar jaya. .



Oh si doi, abaikan mereka yang berebut nama untuk ide dan kerja kerasmu. Ingat saja mereka yang berjuang bersamamu. Acknowledgement dari pimpinan agaknya cukup untuk menyeka genangan airmata yang pernah ada di pelupuk anggota tim-mu.

Emak tahu, si doi memang ga akan peduli, namanya disebut atau tidak. Emak tahu dengan lancarnya acara saja, si doi sudah cukup berbahagia.

Sayangnya si doi menolak di saat diingatkan untuk berhenti menghisap si rokok putihnya. Katanya, "takut nanti keabisan ide.." ๐Ÿ˜ช

Dan karena alasan itulah, kali ini, Emak manyun-nya beneran๐Ÿ˜’๐Ÿ˜ 



Salam Emak!
#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita
#HariKe-7

Selasa, 13 Februari 2018

Jangan Ngikutin yang Jelek, Mak. Kapan majunya?

Undangan itu jelas-jelas mencetak bahwa meeting hari ini dimulai 08.30 WIB. Tapi sampai pukul 10.30, kursi-kursi masih banyak yang belum diduduki.  Emak terus mengunyah, menghibur diri dengan pisang rebus dan kopi yang terhidang. Laptop yang mulai kehabisan baterai berdecit-decit minta di-charge.

Satu persatu peserta hadir. Sekedar mengakrabkan diri, Emak tinggalkan laptop dan bergabung dengan teman-teman yang baru datang. Seorang teman dari dinas sebelah curcol tentang kesibukannya yang luar biasa. Baginya meeting ini sangat prioritas, sehingga dia mendelegasikan beberapa agendanya yang lain. Dia cerita kalau pekerjaan semakin berat dan banyak, apalagi karena dia hanya  dibantu 3 orang staf.  Emak menahan sunggingan senyum kecut, secara Emak pernah punya 2 staf. Itu saja sudah disebut sangat beruntung. Lalu dia bilang, "beruntunglah BPS punya banyak staf."

Huekk..White Coffee yang sedang Emak uyup hampir bikin Emak tersedak. Hati Emak ngga terima. Emak menggeleng-gelengkan kepala tanda tak setuju. Hasil analisis beban kerja terakhir menyatakan jumlah SDM BPS kurang, belum seimbang dengan jumlah pekerjaannya.  Namun apalah daya, Emak sadar mereka pun tak ingin tahu seperti apa beratnya pekerjaan kami. Emak juga tidak perlu menjelaskan kerjaan apa yang Emak tinggalkan demi menghadiri meeting ini, karena Emak pun ngga mau tahu seberapa banyak kerjaan mereka. Mungkin seperti itulah kita manusia pada default setting-nya, playing victim! Kita seringkali merasa kitalah yang paling sibuk, paling capek, tapi paling tidak beruntung.


Emak meninggalkan obrolan itu. sambil tersenyum. Tidak senyum kecut seperti sebelumnya, tapi senyum super manis. semanis Tropicana Slim. Hati Emak terasa ringan dan dipenuhi rasa syukur. Bersyukur karena setelah pertentangan batin yang panjang, akhirnya Emak memutuskan untuk menggembol laptop ke sini. Waktu tunggu 2 jam tadi bisa Emak manfaatkan secara produktif. Alhamdulillah, 2 jam yang tidak tersia-sia. Emak tidak merasa rugi walau meeting ini tertunda lama. Emak masih bisa kerja.

Tetiba ada suara setan berbisik, "makanya Mak, besok-besok ga usah on time lagi, rugiiii..".

Wusss.. dengan sigap setan itu Emak gebah. "audzu billahi minash syaithanir rajim. Emak itu ASN BPS, we are trained to be on time. Pekerjaan kami selalu berpacu dengan waktu. Emak itu 'agent of change', catettt!!!"


Kali ini suara hati yang berbisik lembut, "jangan ngikutin yang jelek, ya Mak. Kapan majunya?"



Salam Emak!

#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita


#HariKe-6

Jumat, 09 Februari 2018

Cerita tentang Teman Emak

Teman-teman Emak itu banyak yang keren-keren. Keren, karena mereka menyadari passion-nya masing-masing. Mereka mampu mengembangkan passion-nya itu menjadi kapasitas yang membuat mereka spesial. 

Teman-teman Emak itu mengharukan. Tidak jarang mereka mendapat tugas dengan instruksi tidak jelas. Apalagi honor, jelas-jelas tidak jelas. Mengharukan, karena apapun keadaannya mereka sigap dan tangkas melaksanakannya. Slogan mereka seperti tentara, "Siap laksanakan!".

Teman-teman Emak itu membanggakan. Membanggakan, karena semangat mereka yang selalu menyala-nyala, mereka bermental baja, dan pastinya tahan bantingan. Mereka siap dicap gagal atau dinilai buruk karena prinsip mereka adalah kerja tanpa pamrih, lillahi ta'ala. 

Si Emak yang cuma rempeyek sisa dalam kaleng Khong Guan ini mah, cukup bahagia menjadi teman mereka. Cukup memantau via WAG seraya berdoa agar perjuangannya lancar jaya.

Tetaplah menebarkan aura positif teman-teman Emak. We need you around. 
Barakallahu..



Salam Emak!

#humas #BPS_Jabar 

#PerempuanBPSMenulis
#15HariBercerita


#HariKe-4

Senin, 05 Februari 2018

Trying to be Better


Lucu... ga tau sumbernya dari mana (sorry), tapi Bunda dapetin kutipan ini dari posting FB temen yang kebetulan berprofesi sebagai psikolog (psychologist).

Hmmm, yang ingin Bunda bahas bukan tentang 'menikahi seorang psikolog' ya, secara Bunda bukan psikolog. Jadi, ga mungkin pake jurus ini buat nyolek ayah. (#colek ayah dikit ah). Tapi ada kalimat di paragraf ketiga yang penting banget buat reminder Bunda: "Though she's not perfect, but she's trying to be one by helping others to be better."

Trying! Ya, itu adalah kata kunci dari pertanyaan yang diajukan Bunda pada diri sendiri.
Bunda sadar kalau Bunda jauh sama sekali dari kesempurnaan. Karena terlalu sadar itulah, Bunda sering menjaga jarak dari setiap upaya untuk mendekatinya, terlalu takut dikatai : "Sok", atau "belagak", atau "carmuk", atau apalah kata sepadanannya.

Well, setidaknya dari reminder itu, Bunda akan bangkit lagi untuk "mencoba" selalu mencoba menolong orang lain agar lebih baik. Kata pepatah: "Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin-pemimpin hebat lainnya". Minimal Bunda akan mencoba menjadikan anak-anak Bunda pemimpin hebat bagi dirinya, keluarganya dan din-nya..Amin!

Ayo Bunda Bisa!




Minggu, 04 Februari 2018

Bukti (Emak Hoarder)

Katanya anak alay sekarang, no pic berarti hoax. Jadi dalam rangka mendukung 'posting bertanggung jawab", Emak harus ngasih bukti. Jangan kayak politisi jaman now, hanya bisa janji, tapi ga bisa ngasih bukti #eaaaaa



Gambar ini hanya menunjukkan sebagian kecil dari apa yang menggunung di ruang penyimpanan. Kali ini yang bertugas untuk sorting adalah Abang. Bukan apa-apa, yang paling ngerti urusan kabel mengabel diantara Emak, Kakak dan Imbo ya cuma Abang.

Sebagai petugas, Emak memberikan prerogatif pada Abang. Dia boleh buang apapun yang tidak berguna atau sudah rusak. Ternyata kebanyakan kabel itu masih berguna, tidak rusak dan dalam kondisi baik. Rupanya mereka ada dalam gudang, karena kebanyakan mereka ketinggalan jaman saja. Sayangnya, karena zadul barang-barang itu tidak bisa dijual. Kalaupun diberikan pada orang lain, mereka belum tentu mau juga.

Ga percaya?
Serius! Tukang sampah aja, manyun gitu waktu kami sodorin satu kardus barang elektronik. Sengaja disimpan dalam dus agar rapi. Biar tukang sampah tahu sebenarnya itu bukan sampah. Setidaknya masih ada harganya kalau di jual ke tukang rongsokan. Kami pikir beberapa perak bagi tukang sampah lumayanlah. Itung-itung bagi rejeki. Ndilalah kok malah manyun tukang sampahnya. Akhirnya kita kasih duit tips, biar dia mau bawa tuh kardus.

Kalau begitu, hati jadi miris. Apakah Emak yang terlalu pelit sehingga hanya memberi barang rongsok untuk dijual? Ataukah ada orang-orang yang susah maju karena memang susah untuk ditolong.

Ah, sudahlah.. pelajaran hari ini adalah :
Jangan  berharap ucapan terimakasih dari mereka yang kita pedulikan.Tapi, jangan lupa untuk berterimakasih pada mereka yang mempedulikan kita.


Salam Emak!

Selasa, 30 Januari 2018

Hoarder

Hoarder??

Susah mencari padanan kata ini dalam bahasa Indonesia. Sederhananya, 'hoarder' adalah titel untuk orang-orang yang sulit membuang barang. Hoarder mempunyai kecenderungan untuk menimbun barang. Bahkan sejak tahun 2013, hoarding dianggap suatu jenis gangguan mental (mental disorder). Para hoarder merasa memiliki keterikatan batin (mental attachment) dengan barang-barang itu, akibatnya mereka tidak tega untuk membuangnya dan malah menyimpannya.

Kalau hanya berdasarkan definisi diatas, maka Emak harus mengakui bahwa Emak adalah 'hoarder'.
Emak selalu berat kalau harus 'mempensiunkan' suatu barang. Alasannya bisa macam-macam. Kalau barang itu hasil pembelian, Emak biasanya teringat bagaimana perjuangan untuk membelinya. Kalau barang itu hasil pemberian, Emak berat membayangkan betapa sedih pemberinya jika tahu barangnya dibuang. Kalau itu barang hasil bikin sendiri, apalagi! Emak pasti ga tega. Terutama untuk barang hasil bikin sendiri. Diantara ketiga kelompok barang tersebut, barang DIY justru paling berat di handover pada orang lain. Tentu saja karena barang DIY memiliki tingkat mental attachment yang paling tinggi diantara ketiganya.

Karena penyakit ini, Emak sering pusing sendiri. Lemari 5 pintu yang emak punya sampai tidak muat menampung baju Emak. Sebagian di simpan dalam dus-dus bekas rokok gudang garam. Bagaimana tidak numpuk, baju kebaya jaman gadis aja masih Emak simpan. Malah kadang-kadang Emak masih make, kalau kebetulan lagi kurusan (hihi). Belum lagi sepatu, tas, assesoris seperti bros, sudah seperti pelangi, merah kuning hijau di langit yang biru. Tapi ya itu, masih dalam kotaknya, berbaris di pojokan, tidak berkandang.

Kelamaan pusing tentang urusan timbun menimbun ini, Emak akhirnya introspeksi. Tahap pertama dalam proses introspeksi ini adalah, bertanya: WHY? Kenapa saya suka menimbun barang?
Jawabannya Emak rinci sebagai berikut:

  1. Barang itu biasanya didapatkan dengan tidak mudah. Bisa jadi hasil menabung, hasil malak , hasil minjem tapi ga dibalikin, dll pokoknya.
  2. Barang itu barang yang diidamkan sejak kecil. Berhubung Emak udah centil  turunan, sejak kecil Emak sudah bercita-cita harus miss matching, persis seperti tante CS bank yang kos sebelah rumah. Baju, tas, sepatu dan bros mesti matching. Jadi ketika sudah punya penghasilan dan punya kewenangan untuk bebas membelanjakannya tanpa izin siapapun, Emak langsung merajalela. Sayangnya, cita-cita itu terjagal rasa ga pede makenya. Jadi, biarpun Emak punya sepatu hijau, biru, merah, kuning.. ujung-ujungnya yang sering dipake malah crocs kw china sejuta umat itu lhooo..

Mmhh. jadi jangan dibayangin Emak ini modis ya, Sis.. Hoarder punya kecenderungan suka memiliki tapi belum tentu siap memakai.. Soalnya sayang takut rusak, hehe..

Pertanyaan kedua dalam proses introspeksi ini adalah... mmm..... (#mikir.com) masih dipikirkan ... hahahahh

Gara-gara ngebahas masalah hoarder ini Emak malah jadi sadar kalau sifat ini sudah ada sejak Emak kecil. Sejak kecil Emak suka ngumpul-ngumpulin barang. Bahasa kerennya sih koleksi. Berikut barang yang pernah Emak koleksi  dirunut dari zaman SD hingga sekarang:

SD:

  1. Koleksi stiker. Tiap hari Emak nahan ga jajan seperti anak yang lain, karena uangnya bakal beli stiker. Terus stikernya ga di tempel, tapi dikumpulin. 
  2. Koleksi kertas surat. Zaman Emak SD, koleksi kertas surat memang ngetren banget. Jadi, ga perlu beli sering-sering. Bisa tuker-tukeran ama temen-temen yang lain.
  3. Koleksi perangko, sempetnya sebentar aja. Soalnya koleksi perangko ternyata mihilll bingitss. Harus ngemodal, kalau cuma bisa ngumpulin prangko dalam negeri yang rupanya gitu-gitu aja, mending ga usah. Secara Emak kan ga punya sahabat pena yang tinggal di luar negeri. Merupakan hil yang mustahal, Emak dapat perangko dari luar negeri kalau bukan boleh beli di Gramedia. Emak versi SD sudah sadar bahwa koleksi prangko dengan cara itu menghilangkan sensasi luar biasanya. Emak versi SD sering terkagum-kagum dengan mereka yang banyak koleksi perangkonya. Kagum bukan karena jumlah yang dimilikinya, tapi kagum karena mengira dia punya banyak teman. Teman yang pasti sangat baik, karena rajin sekali berkirim surat. Ketika tahu, perangko itu cuma beli di Gramedia, maka sumber kekaguman Emak menjadi sirna. Lalu Emak berkata, "perangko, bye!".


SMP
1. Koleksi pacar.. Hahhaha haluuuu Makkkk...

SMA
1. Koleksi kaos kaki warna-warni. Sebenernya enggak niat di koleksi, tapi berhubung sekolah negeri bikin aturan kaos kaki harus putih, makanya kaos kaki warna-warni cuma bisa dijadiin barang timbunan.
2. Koleksi jam tangan. Sejak SMA, Emak mulai berani jalan sendiri ke Pasar Baru. Sebenarnya Emak ke Pasar Baru buat nyari tambahan koleksi kaos kaki. Entah mengapa suatu ketika Emak tahu kalau harga jam tangan di Pasar Baru harganya murah dan terjangkau. Awalnya, beli satu. Namanya jam murah, ga berharap awet lah ya. Jadi kalau nanti mati tinggal beli lagi, gitu niatnya. Eh, ternyata Emak underestimate. Biar kata jam murah, awet juga dia. Saking awetnya, Emak jadi ga sabar. Jam belum rusak, Emak udah beli lagi, beli lagi, beli lagi. Numpuk deh..
3. Koleksi Penghapus. Emak seneng banget ngumpulin barang-barang lucu. Yang paling ga nahan ya penghapus. Bentuknya lucu, warnanya cakep, malah ada yang wanginya bikin pingin gigit. Koleksi penghapus baru berakhir setelah punya anak. tadinya mau ngajak anak main pake penghapus yang lucu-lucu itu dengan mereka. Tak dinyana saking gemesnya malah dikunyah ama anak-anak. Piuhhh. Emak tidak yakin, Emak berhenti koleksi karena sayang sama penghapusnya atau sama anaknya... heueheu..

Kuliah
1. Koleksi fosil soal. Emak kan kuliah di sekolah kedinasan. Mitosnya, dosen sering mengulang soal-soal tahun sebelumnya di setiap ujian. Jadi, kerjaan Emak adalah berburu fosil soal, dengan cara pedekate-pedekate gitu dengan para senior.. #demi
2. Koleksi tiket bis Bandung-Jakarta, Jakarta-Bandung. Emak kan ceritanya kuliah di Jakarta. Berhubung masih doyan Indomie dan telur ceplok buatan Mamih, tiap minggu Emak pulang ke Bandung. tak lupa bawa gembolan oleh-oleh buat Mamih berupa baju yang belum sempet dicuci.. hihi. #myMomistheBest

Now
1. Koleksi keluhan
2. Koleksi omelan
3. Koleksi kartu tagihan
4. Koleksi selebarann diskon supermarket/departement store
5. Koleksi print-print-an jurnal ilmiah yang belum sempet dibaca, apalagi di review
6. Koleksi buku self-improvement yang dibaca doang tapi ga di praktekin..
7. Koleksi benang, kertas, manik-manik, kancing, kain... maklum, Emak kan (mantan) penggiat DIY.. xixi

Mmmhhh...

Udah.. ahh segitu aja dulu. Pikir-pikir nyensus barang koleksi gini bikin Emak makin sadar bahwa kadar hoarder Emak cukup mengkhawatirkan. Apalagi melihat Ayah sudah semakin gelisah, hihi. Emak perlu segera disembuhkan!.

Wish me luck ya!

Salam Emak!!

Senin, 29 Januari 2018

Mengapa Emak Menulis

Baru-baru ini Emak (minta) diajakin gabung dengan WAG Perempuan BPS Menulis (PBM). Sesuai dengan namanya, penghuni grup adalah para perempuan penulis di BPS se-antero nusantara. Diantara mereka ada penulis yang artikelnya sering muncul di surat kabar. Ada juga yang sudah menerbitkan buku, novel, cerpen dan lain sebagainya. Mereka luar biasa! Berada diantara mereka membuat Emak merasa ciut. Tapi Emak ingat bahwa satu langkah penting menuju luar biasa adalah berada diantara orang-orang luar biasa. Anggap saja panu, bersentuhan dengan mereka membuat kita mengidap yang sama.

Diluar grup PBM ada grup lainnya lagi. WAG tersebut hanya beranggotakan 50 orang saja. Lebih kecil, lebih berkualitas tentunya. Konon, salah satu pra-kualifikasi keanggotaanya adalah 'benar-benar mumpuni dalam menulis. Mereka berkewajiban menunjukkan bukti tulisan dengan tema: "Mengapa Saya Menulis". Kuota grup tersebut sudah penuh waktu Emak tahu. It's too late bagi Emak untuk ikut bergabung. Lagi pun siapa Emak? Hanya remahan kerupuk sisa bubur ayam yang melempem karena disimpen di kaleng Monde yang tutupnya hilang. Emak tahu diri lahh..

Nah, adapun Emak kali ini akan menulis dengan tema tersebut bukan karenaingin gabung dengan WAG tadi. Ini seakan menjadi reminder buat Emak untuk MULAI lagi menulis. Setelah lama menelantarkan blog ini, awal tahun 2018, boleh menjadi momentum tepat untuk membuka lembaran baru.
Wish Emak Luck!

Mengapa Emak Menulis... 

Selalu dan selalu, Emak merasa mengabadikan suatu momen itu penting. Sayangnya setelah dikaruniai telepon genggam dengan spesifikasi kamera HD, Emak malah keasyikan merekam momen dalam bentuk gambar. Orang bilang, "a picture is worth a thousand words". Saat Emak berbagi photo di Instagram, Emak merasa tidak perlu lagi berkata-kata. Let the picture talks itself. Tapi, lagi-lagi Emak diingatkan bahwa ada yang tidak bisa dilakukan oleh photo. Photo bisa menunjukkan emosi Emak, tapi photo tidak bisa menunjukkan isi hati, buah pikiran, dan ide yang ada di benak Emak.


Photo butuh narasi, butuh tulisan. So, untuk kelas Emak yang baru bisa ngetik sebelas jari dengan kemampuan analisis seadanya, ngirim artikel ke surat kabar agaknya terlalu ngimpi. Ya sudahlah, Tuhan pun tahu yang penting Emak berusaha. Cukuplah (sementara) ini Emak nulis di lapak sendiri (;P). Di jagat jaring laba-laba yang luas ini, belum tentu ada yang nyangkut atau sengaja mampir. Tapi tak apalah, anggap saja Emak lagi ngomong ama tembok. Ngomong sendiri tidak masalah, yang penting terdokumentasi (wkwkwk).

Jadi kesimpulannya, kenapa Emak menulis?
Emak cuma mau bilang ke Dilan yang pernah berkata:
"Jangan nulis,

ini berat.

Kau tak akan kuat.
Biar aku saja."

"Dilan, Biarkan Emak mencoba" ...


Salam Emak!


 #ngacapruk #keun_bae #teunanaon "

Jumat, 22 Desember 2017

Selamat Hari Ibu


Selamat hari ibu... Hari ini Emak jadi petugas upacara, ceritanya kebagian jadi pembaca sejarah ringkas Hari Ibu.

Kalau boleh sedikit kritis, sepertinya penetapan hari ibu di tanggal 22 Desember tidak pas dengan sejarahnya. Tanggal 22-25 Desember 1928 adalah rapat akbar para perempuan Indonesia, menyetarakan diri dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Apakah semua perempuan yang hadir sudah menjadi 'ibu'? Belum tentu.

Jadi, mungkin lebih pas-nya disebut hari 'Perempuan'?

Ya, sudahlah abaikan tulisan ini. Terpentingnya adalah esensi peringatan hari ibu, mengingat perjuangan para wanita, baik ibu-ibu maupun yang belum ibu-ibu. Perjuangan mereka yang sadar bahwa kemerdekaan, dan pembangunan adalah tanggung jawab yang juga harus dipangku oleh para wanita, karena Wanita adalah Pilar Bangsa! #yess #upacara#hari_ibu

Salam Emak!

Rabu, 26 Juli 2017

Nambah Ilmu malah Jadi Bingung


Menurut teori backward bending, pekerja cenderung bekerja lebih keras ketika berada di tingkat upah yang rendah. Sebaliknya bekerja lebih sedikit ketika tingkat upahnya tinggi.

Kesimpulannya karena kami diupahi rendah, maka kami harus bekerja lebih keras kah? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ #overload #overtime#overworked #janganlupabersyukur

Selasa, 09 Februari 2016

Aku Zombie!

Sudah lama sekali aku tidak menulis. Padahal menulis adalah satu cara yang paling aku suka untuk menyatakan pendapat. Entahlah semenjak rajin baca buku psikologi, aku merasa psikologis aku terganggu. Apalagi setelah merenungkan kalimat ini:
" orang yang ilmunya sedikit seringkali merasa pandai".
Jleb! Menusuk, dan itu tidak satu kali tapi bertubi-tubi.
Semenjak itu ironi terus mengintai. Setiap saat aku merasa pandai, justru aku merasa ciut karena pada saat yang sama hati kecil berbisik: "berarti ilmu kamu sedikit!". Sayangnya, semakin aku diingatkan kalau ilmuku sedikit aku malah semakin takut untuk belajar, semakin takut untuk membaca, semakin takut untuk berpendapat. Aku bukan aku yang dulu lagi. Aku bukan lagi angkot. Angkot walau punya trayek tapi bisa ngetem di sembarang tempat dan dan beroperasi sembarang waktu. Aku sekarang berubah menjadi kereta api, yang hanya berjalan pada sebuah rel dan dengan jadwal tertentu.
Aku terlalu ciut pada diriku sendiri, aku terlalu takut melakukan apa-apa. Aku pikir dengan tidak melakukan apa-apa maka tidak akan ada kesalahan yang aku lakukan. Dengan diam dan menutup mulut, tidak ada kata-kata yang mungkin menyakitkan. Dengan mengurung diri di rumah tidak akan ada orang yang sakit hati bila aku lalai menyapa saat berpapasan di jalan. Dengan memejamkan mata dari kezaliman, tidak akan ada dada membara karena kekesalan. Dengan menutup telinga tidak ada lagi kabar burung yang gatal ingin disebarkan.
Dengan begitu aku pikir aku bisa hidup tanpa kesalahan.
Namun entah mengapa rasanya duniaku semakin kehilangan warnanya.Layaknya pas-poto ijazah, hidupku jadi kotak, kecil, dan hitam-putih!
Note: Pelajaran hidup itu harus dipetik. Jika dibiarkan d pohonnya dia akan layu dan `mengering. Lalu biarkan dia tumbuh dan bertunas. ..

Senin, 08 Februari 2016

Wisuda Emak



Tidak terbiasa menikmati acara-acara begini, membuat Emak tidak terlalu antusias untuk ikutan wisuda. Rasanya banyak sekali urusan yang lebih penting daripada sekadar ikutan wisuda. Perasaan 'riweuh' alias rempong kalau ikut wisuda, harus nyari baju lah, harus sewa studio photo lah, harus nyalon lah, malessssss....

Tapi pikir-pikir, what a loss.. kalau Emak ga punya moment to remember. Betapa membosankannya..
Jadi, dengan cara sesederhana yang Emak bisa, Emak ikutan wisuda.

Berangkat menuju Dipatiukur dengan sepeda motor shogun keluaran tahun 2006 berdua aja dengan Ayah. Selain karena anak-anak sekolah, undangan yang bisa masuk ke Aula juga hanya 2 orang saja. Niang sebenarnya bisa ikut, tapi kebayang padatnya manusia di Aula. Kasihan Niang, tak akan kuat dan sabar melewatinya.

Dengan kebaya murahan beli di BTC kemarin sore dengan Ayah, plus kosmetik menor ala-ala DIY, jadilah wajah Emak yang 'menyeramkan'. Setidaknya itu kata Imbo. Dia bilang, "sorry to say ya Bun, in my opinion.. dandanannya menyeramkan." Dan kami semua yang dengar terbahak bersama. Well said Son, tapi biarkan sajalah..

Ndilalahnya, kadar 'kemenyeramkannya Emak ga sebatas itu. Di pertengahan acara, softlens Emak bermasalah. Hari iti Emak baru ganti merk cairan pencuci softlens. Sepertinya Emak ga cocok dan alergi, mata jadi gatal dan memerah. Karena gak tahan, akhirnya Emak copot softlensnya. Jadi kebayangkan pas naik panggung, Emak dengan mata minus 4, berjalan dengan terbata-bata. Berdoa berharap semoga highheel 7 cm itu tidak mempermalukan. Bayangin gak, kalau  Emak kesandung, terus gedubrak-gedabruk panggungnya runtuh, dan Emak jatuh berguling-guling. Bisa jadi bahan bully-an seumur hidup kalau kejadian. Hiyyy.. membayangkannya saja Emak sudah merinding...

Alhamdulilah, walau dengan mata merah, semua berjalan lancar.
Akhirnya Emak wisuda juga!!!

Rabu, 20 Januari 2016

Lulus?

Alhamdulillah, setelah menempuh onak dan duri, jalan terjal berliku. Emak (hampir) lulus juga. Setidaknya setelah dimintai foto buat ditempel diijazah sudah jadi indikasi kelulusan.. hehe.



Kata Ayah, lulus sekolah bukan berarti selesai. Justru, selesai sekolah berarti mulai menapaki pintu gerbang karir akademik. Bekal ilmu yang didapat dari sekolah, harus mulai diimplementasikan.

Kenapa disebut karir akademik? karena sekarang Emak mengerjakan masalah bukan karena tuntutan dosen atau tuntutan nilai, tapi karena tuntutan nurani.

Kenapa tuntutan nurani? karena nuranilah yang bisa mengidentifikasikan masalah. Jika sudah menemukan masalah, maka kita harus jadi bagian dari solusinya. 
Setidaknya berusaha mencari solusi.

Buat apa punya ilmu, kalau tidak digunakan..


Komen:
Ternyata benar punya ilmu itu berat nanggungnya, wajarlah kalau padi saja merunduk ketika bulirnya membesar..


Selasa, 19 Januari 2016

Gagal VS Sukses

Jend,Prof. DR. H. Ir Dika Dzikri Satria Wajdi, SH. M.Si.
Itulah kira-kira yang ditulis anakku saat dia diminta untuk mendeskripsikan dirinya di masa depan.
Mau tertawa?
Terdengar mustahil?
Lucu dan terdengar mustahil memang, tapi bukankah kita dahulu pernah mengalami masa itu?. Masa-masa disaat kita penuh dengan rasa percaya diri, tidak ada yang tidak mungkin kita lakukan, tidak ada yang tidak mungkin kita capai. Hingga pada akhirnya waktu menunjukkan banyak bukti bahwa dunia tidak seindah alam khayalan.
Seorang teman yang cerdas namun pemalu gagal menjadi PNS, tapi kemudian sukses membangun perusahaan. Seorang teman yang sukses berkeliling dunia, tapi gagal menemukan tempat untuk dia sebut rumah. Seorang teman yang berwajah sangat cantik kehilangan kepercayaan diri karena suaminya terlalu ganteng. Ahhh... dunia memang tak sempurna.
Maaf, terdengar seperti menghibur diri ya? Mungkin inilah yang diistilahi orang dengan “berbahagia diatas penderitaan orang lain”. Haha.. setidaknya kita harus bisa tertawa bukan..
Aku menjadi saksi bahwa tidak semua orang yang pintar di bangku sekolah jadi orang yang sukses.
Aku menjadi saksi bahwa tidak semua orang yang bodoh di bangku sekolah jadi orang yang gagal.
Aku menjadi saksi bahwa pada dasarnya tidak ada orang yang benar-benar sukses dan tidak ada orang yang benar-benar gagal.
Manusia hanya bisa merencanakan, Tuhan yang menentukan. Jika anakku bercita-cita setinggi itu, aku doakan semoga Allah memudahkan, Allah menunjukkan jalan terbaik. Semoga anak-anakku dapat bangkit lagi disetiap kegagalan dan selalu berendah hati di setiap kesuksesan.
Aamiin...
 

Keluarga Pak Wajdi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang