Senin, 05 Februari 2018

Trying to be Better


Lucu... ga tau sumbernya dari mana (sorry), tapi Bunda dapetin kutipan ini dari posting FB temen yang kebetulan berprofesi sebagai psikolog (psychologist).

Hmmm, yang ingin Bunda bahas bukan tentang 'menikahi seorang psikolog' ya, secara Bunda bukan psikolog. Jadi, ga mungkin pake jurus ini buat nyolek ayah. (#colek ayah dikit ah). Tapi ada kalimat di paragraf ketiga yang penting banget buat reminder Bunda: "Though she's not perfect, but she's trying to be one by helping others to be better."

Trying! Ya, itu adalah kata kunci dari pertanyaan yang diajukan Bunda pada diri sendiri.
Bunda sadar kalau Bunda jauh sama sekali dari kesempurnaan. Karena terlalu sadar itulah, Bunda sering menjaga jarak dari setiap upaya untuk mendekatinya, terlalu takut dikatai : "Sok", atau "belagak", atau "carmuk", atau apalah kata sepadanannya.

Well, setidaknya dari reminder itu, Bunda akan bangkit lagi untuk "mencoba" selalu mencoba menolong orang lain agar lebih baik. Kata pepatah: "Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin-pemimpin hebat lainnya". Minimal Bunda akan mencoba menjadikan anak-anak Bunda pemimpin hebat bagi dirinya, keluarganya dan din-nya..Amin!

Ayo Bunda Bisa!




Minggu, 04 Februari 2018

Bukti (Emak Hoarder)

Katanya anak alay sekarang, no pic berarti hoax. Jadi dalam rangka mendukung 'posting bertanggung jawab", Emak harus ngasih bukti. Jangan kayak politisi jaman now, hanya bisa janji, tapi ga bisa ngasih bukti #eaaaaa



Gambar ini hanya menunjukkan sebagian kecil dari apa yang menggunung di ruang penyimpanan. Kali ini yang bertugas untuk sorting adalah Abang. Bukan apa-apa, yang paling ngerti urusan kabel mengabel diantara Emak, Kakak dan Imbo ya cuma Abang.

Sebagai petugas, Emak memberikan prerogatif pada Abang. Dia boleh buang apapun yang tidak berguna atau sudah rusak. Ternyata kebanyakan kabel itu masih berguna, tidak rusak dan dalam kondisi baik. Rupanya mereka ada dalam gudang, karena kebanyakan mereka ketinggalan jaman saja. Sayangnya, karena zadul barang-barang itu tidak bisa dijual. Kalaupun diberikan pada orang lain, mereka belum tentu mau juga.

Ga percaya?
Serius! Tukang sampah aja, manyun gitu waktu kami sodorin satu kardus barang elektronik. Sengaja disimpan dalam dus agar rapi. Biar tukang sampah tahu sebenarnya itu bukan sampah. Setidaknya masih ada harganya kalau di jual ke tukang rongsokan. Kami pikir beberapa perak bagi tukang sampah lumayanlah. Itung-itung bagi rejeki. Ndilalah kok malah manyun tukang sampahnya. Akhirnya kita kasih duit tips, biar dia mau bawa tuh kardus.

Kalau begitu, hati jadi miris. Apakah Emak yang terlalu pelit sehingga hanya memberi barang rongsok untuk dijual? Ataukah ada orang-orang yang susah maju karena memang susah untuk ditolong.

Ah, sudahlah.. pelajaran hari ini adalah :
Jangan  berharap ucapan terimakasih dari mereka yang kita pedulikan.Tapi, jangan lupa untuk berterimakasih pada mereka yang mempedulikan kita.


Salam Emak!

Sabtu, 03 Februari 2018

Kita Bukan Gajah Kecil (lagi)

Pernah cari tahu bagaimana sirkus menjinakkan gajah? Ternyata ketika gajah kasih kecil, mereka memasang rantai di kaknya memancangnya pada sebuah pasak. Sampai besar, gajah itu diperlakukan begitu. Bedanya, kali ini rantai tidak lagi dipautkan pada apapun. Anehnya walau sudah tidak tertaut, gajah itu tidak pernah mecoba untuk lari atau pergi meninggalkan sirkusnya.

Memori masa kecilnya merekam, setiap ingin lari dia tidak berhasil. Kakinya terantai. Semakin keras dia mencoba semakin keras jatuhnya. Hingga akhirnya gajahpun berhenti mecoba, yang dia percayai hingga besar adalah "saya tidak akan pernah bisa".

Kita kah gajah itu?

Tanpa kita sadari, larangan-larangan yang acap kita dengar semasa kecil membuat kita berkembang menjadi manusia bernyali ciut.

"Jangan lari-lari, nanti jatuh!"

"Jangan hujan-hujanan, nanti sakit!"

"Jangan ikut campur, kamu masih keci!"


Sadarkah kita, kalau semakin dewasa kita justru malah semakin penakut, semakin tidak kreatif, semakin takut mengambil resiko, semakin mengkotakkan diri.

Waktu kecil, kalau ingin jajan harus minta dulu ke orangtua; kalau mau pergi harus seijin orangtua; harus ini harus itu. Setelah besar, memang tidak harus minta ijin lagi ke orang tua, malah lebih berat; minta ijin pada diri sendiri. "aku boleh begini gak ya?, "aku boleh begitu, gak ya?, "orang nanti sebal ga ya?", .. dan sebagainya. Kitalah yang membatasi diri sendiri.

Pikir-pikir, apa sih yang membuat kita takut? Takut di kritik? Takut dihina?
Bos Emak pernah bilang, "kamu jangan takut di kritik, di hina atau di marahin. Toh gak bikin bopeng, ga ninggalin tanda di muka kamu. Yang perlu kamu lakukan adalah menyaringnya.  Dengarkan yang bisa jadi masukkan, abaikan yang tidak ada artinya. Pilih mana yang perlu di dengar, dan mana yang harus dilupakan".

Nasihat itu betul-betul mengena ke hati Emak.

Ketika kita takut berbuat karena takut menerima respon negatif dari orang lain, maka kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Tidak melakukan apa-apa memang aman, karena tidak akan salah dan tidak akan benar. Tapi , kita kehilangan peluang untuk menunjukkan kemampuan kita.

There are always people who will acknowledge our capabilities, other than those who will despic.
So, saatnya jadi gajah yang besar.

Jangankan cuma matahin rantai, matahin hati orang juga sudah bisa kaaaannn???..   
#eaaaaaaa


Salam Emak!

#challengePBMday1st













 

Keluarga Pak Wajdi Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang